Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Kesehatan Mental

Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Kesehatan Mental

Penulis: Hasiyah, Bulan Mairanda, Nadia Putri (Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala)

Pandemi COVID-19 menjadi suatu penyebab baru terjadinya setres, perubahan pola komunikasi yang meciptakan perubahan bahasa dan perubahan sosial mempegaruhi kesehatan mental di masa pademi.

Sosial distancing, isolasi, stigma dan diskrimiasi terhadap pederita, higga kesulitan ekonomi yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat luas. Perubaha kebiasaa mejadi suatu tantangan baru, tidak sedikit orang-orang mengalami kesulitan untuk beradaptasi terhadap kondisi ini.

Perhitungan dari Perhimpuna Spesialis Kedokteran jiwa Indoesia (PDSKJI) mecatat dari 2040 hasil swaperiksa psikologis yang telah berjalan selama lima bulan di Indoesia 64,8% diantaraya mengalami masalah psikologis.

Stres yang muncul selama masa pandemi COVID-19 antara lain dapat berupa, pertama, kurangya komuikasi sosial. Kedua, kekhawatiran dan kecemasan mengenai kesehatan diri sendiri dan orang-orang terdekat. Ketiga, perubahan pola tidur atau pola makan. Keempat, sulit tidur dan konsentrasi. Kelima, perburukan masalah kesehatan kronis. Keenam, perburukan kondisi kesehatan mental. Dan ketujuh, meningkatnya penyalahgunaan tembakau, alkohol, maupun obat-obatan terlarang lainnya.

Rasa takut dan cemas merupakan respon yang wajar yag dialami mausia terhadap ketidakpastian covid-19 . Namun, bukan berarti respon ini tidak dapat kita kendalikan. Mengendalikan stres dengan cara yang sehat dapat membantu kita menjalani masa-masa sulit ini dengan lebih baik.

Berikut ini adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi:
1. Menjaga komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat.
Sejatinya komunikasi menjadi hal pali dasar untuk megurangi tigkat kesetresan, karena manusia adalah makhluk sosil yang membutuhkan iteraksi satu sama lain.

2. Bijak dalam menerima informasi mengenai COVID-19.
Maraknya iformasi mengenai covid-19 yang datang dari mulut kemulut tanpa sumber yag tepat membuat ketakutan terhadap masyarakat ikut meigkat, pastikan kita merima informasi covid dari sumber yang jelas dan sumber-sumber yang kredibel, seperti WHO.

3. Hidup Sehat
Seperti peribahasa latin “Mens sana in corpore sano” yang berarti “jiwa yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat “

4. Hindari penggunaan rokok/alkohol/obat-obatan

5. Lakukan aktivitas yang disenangi

6. Jagan takut utuk memita pertologan orang lain.

Selain menjaga kesehatan mental kita, kita juga harus berperan dalam menjaga kesehatan mental orang-orang di sekitar kita. Di masa pandemi, kita perlu meningkatkan empati dan kepedulian terhadap sesama.

Rasa takut dan cemas adalah hal yang wajar, tetapi jangan biarkan ketakutan Anda menjadi penyebab masalah kesehatan mental orang lain. Berhenti menstigmatisasi pasien, penyintas, dan tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 karena partisipasi semua orang diperlukan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental orang lain agar pandemi COVID19 ini berlalu.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *