PENAWARTA.COM – Sub-Sub Recipient TB-HIV ‘Aisyiyah Pamekasan atau yang biasa dikenal SSR Pamekasan masih konsisten dalam melaksanakan beberapa kegiatan dan tindakan nyata, baik secara preventif dan persuasif dalam penanggulangan dan pencegahan penularan penyakit TBC selama tahun kurun waktu 2017 hingga 2019 di 13 Kecamatan di Kabupaten Pamekasan.

Terdapat beberapa bentuk kegiatan SSR Pamekasan, diantaranya menjadi 2 kegiatan besar yakni Investigasi Kontak dan Non-Investigasi Kontak dalam penemuan kasus TBC.

Dalam pelaksanaannya SSR Pamekasan memiliki kader-kader aktif yang menjadi ujung tombak Penemuan dan Pencegahan TBC-HIV di Kabupaten Pamekasan. Kader-kader tersebut merupakan kader TBC SSR Pamekasan yang tersebar di 13 kecamatan. Tentunya kader TBC telah dibekali Pengetahuan serta telah dilakukan pelatihan oleh SSR Pamekasan yang didanai oleh Global Fund ATM (Aids, Tuberculosis and Malaria) agar dapat membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan menuju eliminasi TBC-HIV 2023.

Pada tahun 2019, Investigasi Kontak yang telah dilakukan oleh para kader SSR Pamekasan adalah sebanyak 920 rumah disekitar indeks (baca; pasien) dengan minimal 20 orang disekitar indeks, dengan kata lain sedikitnya 18.400 orang telah diberikan penyuluhan dan edukasi serta dilakukan screening dan selanjutnya yang memnuhi syarat rujukan TBC akan diberikan Surat Pengantar ke Fasyankes/Puskesmas Setempat untuk dilakukan Pemeriksaan TBC .

Tercatat selama tahun 2019 sebanyak 441 pasien dinyatakan positif dari 4144 suspek (baca; orang yang diduga) terdiri dari 15 pasien TBC Anak dibawah 15 tahun dan 99 Orang Lanjut Usia (Lansia) diatas 60 tahun dan sisanya pada rentang usia 16-59 tahun sebanyak 327 orang. Jumlah Pasien Positif tersebut naik sebesar 176% dari tahun 2018 lalu sebesar 251 pasien positif dari 1017 Suspek di tahun 2018 atau naik sebesar 407% pada tahun 2019.

Adapun pasien yang telah dinyatakan sembuh dan lengkap pada tahun 2018 sebanyak 105 pasien dan naik sebesar 344% pada tahun 2019 sebanyak 361 orang, jumlah kesembuhan tentu akan bertambah karena mengingat masih ada pasien positif sedang mnjalani masa pengobatannya selama 6-9 Bulan ataupun yang belum dilaporkan.

Diperkirakan hingga tahun 2020 berjalan, Suspek dan Positif masih akan terus bertambah mengingat masih banyaknya masyarakat yang masih kurang peduli terkait penularan dan pencegahan TBC, dimana masyarakat pada umumnya masih menganggap penyakit TBC adalah penyakit Cekkek atau Penyakit Turunan. (PW/Rilis)