Pasien Hernia Meninggal Setelah Dioperasi di RS Asyifa

oleh -
RS Asyifa di Jalan Mandilaras Nomor 88-90 Pamekasan

PENAWARTA.COM – Pasien penderita hernia Syaifuddin (31), warga Kecamatan Sokobanah, Sampang, Madura, Jawa Timur meninggal dunia seusai menjalani operasi di Rumah Sakit (RS) Asyifa Pamekasan.

Pada Senin (18/11/2019) siang, ia dibawa ke RS Asyifa di Jalan Mandilaras Nomor 88-90 Pamekasan setelah penyakitnya dirasa semakin parah.

Ia langsung didiagnosa oleh pihak rumah sakit dan korban disarankan agar segera menjalani operasi untuk mengangkat penyakitnya, tersebut.

Istri korban Rohimah awalnya keberatan, apalagi suaminya sendiri memang meminta agar dirawat jalan saja. Tapi pihak rumah sakit tetap meminta Syaifuddin agar dioperasi.

Karena terdesak, dan tidak punya pilihan lain, keluarga Syaifuddin akhirnya bersedia menanda tangani persetujuan operasi. Apalagi, ketika itu keluar “ancaman” jika menolak, agar pasien dibawa pulang saja.

Istri Syaifuddin, Rohimah tidak punya pilihan lain, kecuali harus mengikuti kemauan pihak rumah sakit. Saat itu, tercapai kesepakatan bahwa biaya operasi Rp15 juta.

Bagi keluarga Syaifuddin uang Rp15 juta ini, bukan sedikit. Tapi, demi pertimbangan kesembuhan keluarga, apalagi setelah mendengar ancaman bahwa RS Asyifa tidak akan mau merawat Syaifuddin jika tidak mau dioperasi, maka pilihannya hanya satu, yakni menerima tanpa syarat.

“Mereka ini bukan punya uang, tapi masih mencari hutangan ke keluarga dan tengganya,” kata kerabat korban Haidar Anshori saat menyampaikan keterangan pers di Pamekasan, Selasa (19/11/2019).

Namun dalam perkembangannya, Syaifuddin bukan malam sembuh setelah dioperasi, akan tetapi justru meninggal dunia. Ia meninggal dunia Selasa (19/11/2019) sekitar pukul 08.00 WIB.

“Setelah kami tanya, dokter lalu menjelaskan, bahwa penyakit si korban ini sudah parah. Kalau parah, ya kenapa masih dioperasi?,” tanya Haidar.

Setelah korban meninggal, pihak rumah sakit lalu menurunkan tarif operasi dari sebelumnya Rp15 juta, menjadi Rp10 juta dan turun lagi Rp 8 juta. Malah terakhir, pihak rumah sakit menyarakan kepada keluarga korban agar tidak usah langsung bayar, akan tetapi disarankan membayar nanti, yakni setelah keluarga tenang.

“Kami curiga ada malapraktik sehingga menyebabkan kerabat saya Syaifudin meninggal dunia,” ujar Haidar.

Pihak Rs Asyifa sendiri tidak bersedia dikonfirmasi wartawan terkait kasus meninggalnya pasien hernia setelah dioperasi di rumah sakit itu.

“Kami tidak akan memberikan penjelasan kepada siapapun terkait kematian korban, kecuali kepada keluarga korban,” kata petugas medis Asyifa, Ulfa kepada wartawan yang hendak mengkonfirmasi dugaan malapraktik seperti yang disampaikan keluarga korban tersebut.

Kasus Syaifuddin bukan Yang Pertama
Kasus dugaan malapraktik Rs Asyifa sebagaimana dialami oleh penderita penyakit hernia Syaifuddin, bukan yang pertama kali.

Sebelumnya pada 2016, rumah sakit ini juga pernah bermasalah dengan keluarga pasien asal Kabupaten Sumenep dengan dugaan yang sama. Bahkan Rs Asyifa sempat digugat ke Pengadilan Negeri Pamekasan.

Kala itu, perkaranya terdaftar dengan nomor register perkara Nomor 6/Pdt.6/2016/PN Pmk pada 10 Maret 2016.

Kasus dugaan malapraktik di RS As-Syifa Husada dengan korban bernama Misdianto (35) warga asal Dusun Payudan, Desa Payudan Karang Sokon, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep, Madura itu berawal dari kejadian kecalakaan lalu lintas di Jalan Raya Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan Pamekasan pada 10 Desember 2015.

Korban mengalami cidera tungkai bawah kanan dan patah tulang tertutup atau retak tulang, akan tetapi tidak menyebabkan robeknya kulit.

Dengan kondisi yang seperti itu, maka pihak RS As-Syifa Husada menyarankan agar korban sebaiknya dirujuk ke Surabaya.

Akan tetapi, manajemen RS As-Syifa dalam perkembangannya mengubah rencana, yakni merujuk korban Misdianto ke Bangkalan pada dr Sulistiawan dengan dalih dokter itu merupakan dokter ahli orthopaedi di RS As-Syifa.

Istri korban, Sulastri menuturkan, di lokasi tempat suaminya dioperasi itu, tanpa dokter anistesi bahkan tempat praktiknya juga belum beroperasi, sangat sepi, terlihat remang-remang dan ruang farmasinya juga belum beroperasi.

“Tapi meski kondisinya seperti itu, suami saya tetap dioperasi disana. Kami juga tidak diberi penjelasan tentang risiko yang mungkin terjadi pada suami saya itu,” katanya, seperti dilansir situs jatim.antaranews.com.

Pascaoperasi, korban langsung dibawa pulang ke RS As-Syifa di Jalan Mandilaras Pamekasan dan dua hari kemudian, terlihat bekas jahitan membusuk. (PENAWARTA.COM)