Ratusan Warga Desa Proppo Luruk Kantor Kecamatan, Minta Pilkades Ditunda

PENAWARTA.COM – Ratusan warga Desa Proppo, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, meluruk kantor kecamatan setempat, Jum’at (06/09/19) kemarin.

Kedatangan mereka untuk meminta agar pelaksanaan pilkades khususnya Desa Proppo yang akan digelar pada Rabu, 11 September 2019 mendatang ditunda, karena dinilai tidak prosedural dan cacat hukum.

Tiba di kantor kecamatan, mereka langsung melakukan orasi. Sebagian dari mereka menunjukkan poster dengan berbagai macam tulisan.

Adapun tulisan dalam poster diantaranya, “Stop Demokrasi Biadab, P2KD Tak Netral Ada Apa Dengan Pak Camat, Stop Nepotisme Panitia Atau Pak Camat Pulang Saja Ke Jawa”, serta tulisan lainnya.

Koordinator aksi, Nurul Hidayat mengatakan, aksi tersebut dilakukan karena P2KD Desa Proppo terindikasi ada nepotisme dalam tahapan pilkades khususnya dalam penetapan calon.

“Dari awal penetapan dan dari sekian banyak calon yang lolos hanya dua, yaitu incumbent dan istrinya. Inikan namanya nepotisme,” bebernya saat orasi.

Menurutnya, panitia seharusnya menerima semua salinan putusan Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan dan PTUN Surabaya, bahwa salah satu calon yang dinyatakan tidak lolos ternyata semua datanya valid.

Bahkan, Nurul Hidayat menilai, camat Proppo kurang tegas dalam mengambil kebijakan dan terkesan tidak netral terkait keputusan yang sudah diambil P2KD.

“Kami kesini karena kurang tegasnya pak camat terkait permasalahan ini. Pak camat tidak bijak menyikapi ini. Ada apa dengan pak camat sebenarnya, apa karena kantor kecamatan ini ada didesa ini atau ada hal-hal lain yang perlu dicurigai atau karena takut,” tegasnya.

“Kedatangan kami beserta warga hanya ingin minta keadilan pada tahapan pilkades kali ini,” sambung dia.

Massa aksi hanya ditemui beberapa staf kecamatan saja. Sebab, Camat Proppo sedang menghadiri audensi ke DPRD Pamekasan terkait persoalan tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi berjalan tertib dan lancar. Sejak aksi berlangsung, Aparat kepolisian menjaga dengan ketat.

Kemudian, menjelang sholat jum’at massa membubarkan diri, namun mereka akan kembali dengan massa yang lebih banyak jika belum ada penyelesaian dan kejelasan lebih lanjut terkait persoalan sengketa Pilkades desa Propo. (PW3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *