Berharap Tuah Kepemimpinan dari Para Ulama

oleh -
Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo mendampingi Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan bersilaturrahim ke Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

Konsep kepemimpin kolaboratif atau yang biasa disebut kolektif kolegial, adalah konsep yang digunakan oleh Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo sejak ia mengemban amanat sebagai orang nomor satu di lingkungan institusi Polres Pamekasan, menggantikan kapolres sebelumnya AKBP Nuwo Hadi Nugroho. Masukan dari berbagai elemen masyarakat dinilai sangat penting, karena tata kelola dan pola kepemimpinan yang baik bukan hanya pada sistem dan pengelolaan manajemen baik, akan tetapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah mampu menyalurkan nilai-nilai positif sebagai bagian dari tata nilai yang telah tertanam kuat di masyarakat.

Pada konsepsi ini, Teguh berupaya menerapkan secara “kaffah” apa yang disebut dengan nilai kebaikan lokalitas atau yang disebut “ma’ruf” dan kebaikan universal (khair). Dari segi bahasa, “ma’ruf” dan “khair” sebenarnya, kedua kata ini memiliki arti yang sama, yakni sama-sama berarti baik. Akan tetapi, pengertian baik dari dua kata ini dalam konteks yang berbeda. Mengutip pendapat cendekiawan Muslim Nurcholish Madjdi (alm), “khair” berarti kebaikan substantif dan berlaku universal, serta cenderung berlaku di semua wilayah, sedangkan “ma’ruf” merupakan nilai-nilai kebaikan yang hanya berlaku dalam kelompok atau komunitas tertentu saja.

Dalam buku berjudul “HMI Mengayuh Antara Cita dan Kritik” yang ditulis oleh Dosen IAIN Sunan Kalijaga Dr Agussalim Sitombul, Cak Nur, sapaan karib almarhum Nurcholish Madjid mencontohkan, bahwa memakai kopyah, dengan sandal jepit dan memakai sarung dengan baju koko (takwa) di lingkungan pondok pesantren dinilai bagus, karena mentaati norma etik pesantren. Tapi sebelumnya, apabila pakaian itu digunakan di institusi pemerintahan, justru sebaliknya, karena pakaian yang dinilai bagus rapi di institusi pemerintahan, apalagi saat acara resmi, apabila bersepatu, dengan celana dan baju yang rapi, bukan dengan sarungan.

Bagi Kapolres Teguh Wibowo, mengkomunikasi dua nilai berbeda konteks ini, penting untuk dilakukan untuk merajud nilai-nilai kebaikan pada kepemimpinan dirinya. Institusi Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, menurutnya, harus mampu memahami nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, sehingga institusi tersebut bisa diterima oleh semua kalangan. Menafsir nilai-nilai kebaikan yang berlaku dalam kelompok tertentu dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya menghasilkan prasangka yang berbeda, akan tetapi bisa berimplikasi pada tindakan yang buruk yang tidak diingikan.

Sejalan Instruksi Kapolda

Silaturrahman Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo dengan ulama di Palengaan, Pamekasan

Upaya untuk meningkatkan komunikasi dengan semua elemen masyarakat termasuk tokoh masyarakat dan ulama ini, tidak hanya menjadi komitmen Kapolres Pamekasan Teguh Wibowo saja, namun juga sejalan dengan instruksi Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan.

Dari sisi ini, maka Kapolres Teguh Wibowo menganggap penting untuk meningkatkan hubungan baik dengan semua elemen, seperti tokoh masyarakat dan tokoh agama yang ada di Kabupaten Pamekasan. Dialog dengan para pihak, baik secara insidentil maupun terjadwal harus terus dilakukan. Pengalaman para pimpinan Polres Pamekasan sebelumnya, menjadi kajian penting Teguh Wibowo. Melanjutkan tradisi baik untuk hal-hal baik sebagaimana prinsip “Al-muhafadhotul Alal-qodimis sholeh Wal-Ahdu bil-jadidil ashlah” menjadi cara pandang Teguh Wibowo dalam memimpin institusi Polres Pamekasan.

Saat berkunjung ke Pamekasan dan memimpin apel di halaman Mapolres Pamekasan pada 29 Oktober 2018, kapolda meminta agar polisi di Pamekasan bisa terus menjaga hubungan baik dengan tokoh agama. Hubungan itu harus terus dipererat untuk menjaga situasi agar tetap kondusif. “Kami berharap anggota Polres Pamekasan bisa lebih dekat lagi dengan tokoh agama untuk bersama-sama bersinergi menciptakan situasi yang kondusif,” ujar Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan saat berkunjung ke Polres Pamekasan, seperti dilansir detik.com, Senin (29/10/2018), kala itu.

Luki mengatakan masyarakatnya Pamekasan mayoritas santri dan masih mendengar petuah para ulama. “Saya yakin suara-suara ulama, kiai, dan habaib masih sangat dipatuhi oleh para santrinya. Kalau dekat dengan ulama, kami bisa menyampaikan pesan-pesan Kantibmas kepada beliau untuk disampaikan kepada para santri-santrinya,” kata Luki.

Karena itu Luki terus memerintahkan agar setiap polisi untuk selalu dekat dengan para tokoh agama demi kekondusifitasan suatu daerah atau wilayah. Dengan penjelasan oleh para tokoh agama, maka ujaran kebencian dan hoaks akan terminimalisir. “Saat ini ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan agama untuk membuat situasi tidak aman serta membuat masyarakat menjadi terpecah belah”, terang Luki.

Dari Polres Pamekasan, Luki didampingi Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol I Ketut Gede Wijatmiko, Kabid Propam Polda Jatim Kombes Pol Hendra Wirawan, dan Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo melakukan silaturahmi ke pondok pesantren. Pondok pesantren yang dituju adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar di Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

Setiba di Ponpes Darul Ulum Banyuanyar, Luki dan rombongan disambut pengasuh ponpes, KH. Samsul Arifin dan KH Hasbullah yang kemudian menyilakan rombongan menuju ke pendopo (mandepah). Karena waktu sudah menujukkan Zuhur, maka rombongan dan pengasuh ponpes pun melaksanakan salat Zuhur berjemaah di masjid Ponpes Banyuanyar.

Saat berbincang dengan para pengasuh ponpes, Luki menyelipkan imbauan kamtibmas. Salah satunya adalah masih banyaknya hoaks dan ujaran kebencian yang meresahkan dan cendering memecah belah masyarakat. Terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu, Luki meminta agar jangan mudah percaya dan hendaklah melakukan cek dan ricek. “Saat ini ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan agama untuk membuat situasi tidak aman serta membuat masyarakat menjadi terpecah belah”, kata Luki.

Silaturrahmi dengan para ulama ini, tidak hanya dilakukan Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo saat bersama kapolda saja, akan tetapi sering dilakukan sendiri, bersama para kapolsek. Salah satunya, seperti yang digelar pada 29 Januari 2019 ke rumah KH.Kuddus dan KH.Ali Tohir, Pengsuh Pondok Pesantren Nurus Sollah Sabe Tambek di Dusun Prapatan, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan. Kegiatan silaturahmi Kapolres Pamekasan dan Kasat Intelkam yang juga di dampingi Kapolsek Palengaan beserta Bhabinkamtibmas Desa Palengaan Laok, sebagai bagian dari upaya untuk mengaktifkan peran serta para tokoh agama dan ulama dalam mewujudkan situasi keamanan di Pamekasan yang kondusif.

Seperti dilansir situs polrespamekasan.org, banyak hal yang disampaikan Kapolres Pamekasan saat silaturahmi tersebut. Beliau mengajak seluruh tokoh agama dengan terus menghimbau umat agama masing-masing untuk menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama, dan tidak mudah percaya pada banyaknya berita bohong (Hoax) di media sosial. Sumber informasi harus diverifikasi, agar tidak terpancing dengan isu-isu yang belum tau sumbernya, karenan menjelang Pileg dan Pilres banyak berita menyesatkan dan memperkeruh suasana.

Kunjungan ini sudah sering dilakukan oleh Kapolres Pemekasan kepada tokoh agama dan juga tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh besar, dengan tujuan memperkuat sinergitas kepolisian dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat.Kebetulan saat ini menjelang Pileg dan pilpres. Tujuannya untuk mendekatkan dengan tokoh agama dan memperkenalkan diri, sekaligus menjalin hubungan keakraban dan kekerabatan antara umara dengan ulama.

Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo yang di dampingi Kapolsek Palengaan Iptu Bamabang Irawan,S.H, kala itu menjelaskan, bahwa “Dengan dilaksanakan kegiatan silaturahmi ini, agar dapat menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap Polri dalam memelihara Kamtibmas, serta mempererat tali silaturrahmi antara pihak Kepolisian dengan masyarakat dan juga dengan tokoh agama. (Bersambung-4)