Merindukan Puasa Sederhana

oleh -

Dosen-Tabrani-PW07Oleh Abdul Mukti Thabrani *
Seringkali bulan suci Ramadan disambut dengan kemeriahan dan gegap gempita yang tidak ada hubungannya dengan makna “puasa” itu sendiri. Sejatinya, bulan suci ini akan memberi efek positif jika disambut dengan kelapangan hati, kejernihan pikiran, dan semangat untuk berpuasa dari segala hal yang haram dan merugikan orang lain.

Nabi Muhammad SAW berpesan, hendaklah bulan suci ini menjadikan orang bijak finansial, tidak boros, introspektif, dan merencanakan hidup ke depan dengan spirit “lailatul qadar (optimis terhadap takdir masa depan yang lebih baik)”.

Namun kenyataan yang seringkali kita rasakan, bulan puasa acapkali menjadi ajang hedonisme dan pelampiasan belanja dengan dalih agama.

Tak peduli utang, anggaran belanja menjadi berlipat, dan ujung-ujungnya, “nafsu syahwat” ini akan mengantarkan kita pada pintu korupsi, musuh bersama bangsa ini, yang justru belakangan ini marak dipertontonkan oleh kaum beragama.

Di sinilah urgensi kesadaran tentang makna puasa yang mengajarkan latihan pengendalian hawa nafsu dan syahwat.

Dalam menyambut Ramadan, Nabi Saw menyontohkan hal-hal sederhana untuk dijadikan cermin. Pertama, Nabi Saw lebih menitikberatkan pada persiapan mental psikologis batiniyah daripada persiapan materi. Sebab, tujuan disyariatkannya puasa adalah pengejawantahan rasa ketakwaan yang bermuara pada solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.

Kedua, sikap dan budaya hemat dan sederhana dalam segala hal yang menyangkut materi atau kebendaan. Banyak sekali ayat dan hadist yang menganjurkan hal ini. Gaya hidup hemat dan sederhana memang perlu dijaga secara konsisten, diantaranya dengan menjalani puasa Ramadan secara benar.

Banyak yang meyakini bahwa ajaran Islam eksis sampai saat ini karena para pembawanya sederhana dalam kehidupan mereka dan tidak dikejar-kejar target dunia. Artinya, dunia bukan sebagai tujuan, tapi hanya sebagai sarana dan media. Dunia adalah media untuk mendekat kepada-Nya dan alat mencari keridhaan-Nya. Dalam pandangan Imam al-Syafii, kita dibenarkan untuk bersikap tidak sederhana dan tidak hemat (boros) hanya dalam satu hal, yaitu dalam beramal untuk kepentingan umum.

Ketiga, selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup, baik secara jasmani maupun rohani. Hal ini bisa kita lakukan dengan menghidupkan budaya i’tikaf yang dicontohkan Nabi Saw, terutama menjelang sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Jika dilakukan dengan benar, ritual ini akan berdampak pada penguatan individu sebagai modal dasar terciptanya masyarakat yang tangguh secara ekonomi dan sosial. Karena pada hakikatnya, ibadah kontemplatif ini menuntun kita untuk merencanakan hidup masa depan yang cemerlang sesuai dengan planning, tahapan, dan kemampuan kita.

Evaluasi atas semua dimensi kehidupan kita, dalam ritual i’tikaf ini, akan mencerahkan kehidupan masa depan kita. Karenanya, dalam al-Quran, keutamaannya disejajarkan dengan seribu bulan, yang secara sederhana berarti seluruh umur kehidupan kita di dunia ini.

Keempat, membersihkan harta kita dengan menunaikan kewajiban finansial (zakat harta dan zakat fitrah) dan memperbanyak infak, sedekah dan sumbangan, sebagai bentuk investasi jangka panjang. Hal ini sangat penting, mengingat kita tidak selamanya hidup di dunia ini.

Secara medis sudah terbukti, orang yang banyak memberi secara ikhlas, tanpa pamrih, lebih bahagia dan lebih sehat, tidak mudah stress, serta enjoy dalam menjalani hidup.

Level belanja dan level puasa
Sebenarnya, shopping atau belanja berlebihan dan bangga berutang adalah sesuatu yang paradoksal, karena membantu pertumbuhan ekonomi di satu sisi, dan merusak masa depan bangsa di sisi lain.

Untuk menangkal penyakit sosial ini, dua hal mesti mendapat porsi perhatian yang layak, yaitu status sosial yang selalu menjadi kebanggaan masyarakat, dan mental senang berutang. Untuk itu, penguatan kelas menengah yang melek puasa mesti segera dilakukan sebagai tolok ukur untuk menjaga rasa keadilan, pertumbuhan demokrasi, dan resistensi terhadap kecemburuan sosial. Bagaimana caranya ?

Di sinilah signifikansi dan relevansinya dengan puasa. Sejatinya, puasa diwajibkan bukan untuk menjadikan kita umat yang konsumtif, tapi sebaliknya, menjadikan kita umat yang hemat dan sederhana. Imam al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya’ ulumiddin, membagi puasa kedalam tiga level, pertama, shaum al-‘awam, puasa orang awam yang hanya menahan makan minum.

Kedua, shaum al-khawas, puasa orang khusus yang meningkat pada level puasa dari segala sesuatu yang diharamkan. Ketiga, shaum khawasil khawas, puasanya para ‘kekasih tuhan’ yang sudah sampai pada tingkat menahan syahwat dan keinginan yang tidak perlu.

“Belanjaisme” dapat ditangkal dengan penguatan kesadaran terhadap jatidiri yang ditekankan pada nilai, bukan materi. Dari penguatan ini bisa diharapkan lahirnya generasi pembangun karakter bangsa, yang mengutamakan kedewasaan berpikir, sikap rendah hati, peduli, dan sadar pendidikan.

Sebab, pertanyaan yang perlu kita jawab adalah, untuk apa berpuasa, jika makin boros dan makin cinta pada materi? Sejak dini, gejala belanjaisme ini tidak boleh dibiarkan karena akan berakibat fatal bagi kalangan awam dan masyarakat miskin sehingga timbul budaya utang.

Nah, budaya bangga berutang dan menganggap enteng utang inilah yang sering diwanti-wanti oleh Nabi Saw agar tidak mengakar dalam masyarakat. Karena secara normatif, hutang tetap harus dibayar dan tidak ada taubatnya sampai ia dilunasi atau dimaafkan oleh yang punya piutang.

Namun, bagaimanapun, kita mesti optimis dalam memandang hidup ini sebagaimana diajarkan Nabi Saw. Insyaallah, Ramadan akan mengajarkan kita banyak hal tentang kesederhanaan. Selamat berpuasa.

*Abdul Mukti Thabrani, kajur Ebis STAIN Pamekasan