“Bubur Panas” Thony Saut Situmorang

oleh -

SULAISI-PW-1Oleh : Sulaisi Abdurrazaq*

“aku ingin terbakar hangus sampai mampus oleh birahi yang tak putus-putus…” ( Saut Situmorang)

Saut Situmorang adalah seniman dan Thony Saut Situmorang adalah salah satu pimpinan KPK. Bait puisi seorang seniman kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara bernama Saut Situmorang di atas, seolah mengkritik salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Thony Saut Situmorang karena “prahara” akhir-akhir ini.

Bait puisi itu serasa melukiskan kegilaan Thony yang “ingin terbakar hangus dan mampus”karena Thony tak mampu mengontrol dan menempatkan diri di ruang publik akibat dari “birahinya yang tak putus-putus….”.

SeusaiTalk Show bertajuk “Harga Sebuah Perkara” di TV One Thony melontarkan kata-kata yang tak proporsional dalam konteks pemberantasan korupsi sehingga dapat dinilai sengaja menebar propaganda, mendiskreditkan,politicking atau politik bumi hangus  yang mengiris perasaan kaum muslim khususnya keluarga Himpunan Mahasiwa Islam (HMI).

Barangkali Thony membayangkan sedang membaca puisi seorang seniman yang namanya mirip dengannya tentang tajuk “Perahu Mabuk” ketika dia sedang menyajikan “bubur panas” kepada publik di TV One. “Bubur panas”  itu disajikan sendiri oleh Thony sembari menggiring perhatian kita agar memberi atensi terhadap sajian bubur yang akan disantapnya.

Thony lupa bahwa dirinya adalah pejabat publik yang mesti bijak dan tak menebar kebencian. Mungkin saja Thony berusaha keras mewujudkan bait-bait imanjinasi Saut Situmorang tentang “ingin terbakar hangus sampai mampus”.

Dalam konteks itu, di tangan Thony Saut Situmorang saya agak skeptis penegakan hukum dan pemberantasan korupsi akan menjadi perangkat yang efektif untuk mewujudkan keadilan yang fairtak tidak diskriminatif. Pemberantasan korupsi mestinya bukan soal alumni HMI, PMII, IMM, GMNI, GMKI, PMKRI, atau alumni apalah namanya, melainkan soal siapa melakukan tindak pidana korupsi, dia harus diproses hukum.

Dengan mengait-ngaitkan kader HMI yang ikut LK-I dengan korupsi dan aksentuasi yang tendensius itu menunjukkan dirinya sedang membenci kelompok tertentu yang sebangsa dan setanah air, hal itu memicu konflik dan menciderai kehormatan dirinya sebagai pejabat Negara yang sekaligus sebagai penegak hukum.

Sajian “Bubur Panas”

“Bubur Panas adalah kalimat atau kata-kata Thony Saut Situmorang di ruang publik yang tak konsisten dan berbau propaganda terhadap kelompok tertentu di Republik ini. Terdapat beberapa kali sajian “bubur panas” Thony yang dihidangkan ke ruang pubik, salah satunya, pada tanggal 14 Desember 2015 saat Thony Saut Situmorang mengikuti fit and proper test  di Ruang Rapat Komisi III DPR dan menyatakan, “Saya tidak akan banyak bicara di media, karena itu memengaruhi indeks korupsi”.

Menurutnya, media massa harus dapat digunakan bukan bertujuan untuk menimbulkan kebencian dan rasa sakit hati, tetapi faktanya Saut menelannya sendiri “bubur panas” itu di tahun 2016, berbicara di media dan menebar kebencian karena keasyikan pamer nyali sebagai penegak hukum yang seolah-olah bersih, padahal dirinya pernah ditengarai tidak membayar pajak mobil mewah Rubicon (seharga Rp1,1 miliar) sejak tahun 2013, bahkan perusahaannya PT Indonesia Cipta Investama tak punya laporan keuangan. Meski dia membantah dengan alasan kamuflase kita tahu Thony Saut Situmorang bukanlah malaikat, ia adalah manusia—meminjam puisi Saut Situmorang– dengan “….birahi yang tak putus-putus….”.

Sajian “bubur panas” lainnya terjadi tahun ini dengan kalimat, “mereka orang-orang cerdas ketika mahasiswa, kalau HMI minimal LK-I, tapi ketika menjadi pejabat mereka korup”.

Agar marwah KPK terjaga keluarga besar HMI harus memaksa Thony untuk memakannya sendiri “bubur panas” yang ia sajikan sendiri ke ruang publik, tanpa memberinya kesempatan untuk mendinginkannya, jika tidak, publik akan membenarkan bahwa KPK menjadi alat politik untuk memberangus kelompok lain yang berbeda dengan ideologi mereka. Kita gunakan saja bait puisi Saut Situmorang dalam “Perahu Mabuk”nya bahwa: “Antara Aku dan Kau terbentang samudra kata-kata…….”.

Kebetulan saja kata-kata Thony yang mengeneralisir itu menjadi penyuntik  virus jahat yang menyerang akal sehat dan dapat merobohkan sendi-sendi kebangsaan yang selama ini terus didorong pemerintah lewat program empat pilar berbangsa dan bernegara.

Mari Menahan Diri

Menyikapi seorang Thony Saut Situmorang tak perlu emosional, jangan terprovokasi dan jangan kehilangan akal sehat, kita harus bertahan dengan harmoni Indonesia yang indah dan saling menghargai, tetapi mesti tegas melawan propaganda yang tak hanya merugikan kita, melainkan juga mengancam kerukunan dalam berbangsa dan bernegara.

Sementara ini, buntut dari pernyataan Thony Saut Situmorang, KAHMI berinisiatif untuk melaporkan Thony ke Majelis Etik KPK dan hendak melaporkannya ke Mabes POLRI. Tidak berlebihan jika KAHMI meminta Thony Saut Situmorang meminta maaf secara terbuka di ruang publik karena kecerobohan dan kepongahannya.

Hal itu dilakukan KAHMI karena alasan: Pertama, Penyebutan HMI dalam konteks pembicaraan Thony Saut Situmorang telah merugikan nama baik HMI karena melakukan generalisasi bahwa kader HMI yang sudah ikut Latihan Kader (LK-I) melakukan korupsi; Kedua, Pernyataan itu sangat tendensius dan merupakan pembunuhan karakter serta mendiskreditkan HMI; Ketiga, Pernyataan itu sangat tidak pantas dilakukan oleh pejabat publik selaku aparat penegak hukum; Keempat,karenanya, Forum Rakornas KAHMI menuntut: (1) Thony Saut Situmorang harus minta maaf kepada HMI melalui media massa cetak dan elektronik nasional selama 5 hari berturut-turut; (2) Thony Saut Situmorang mundur dari jabatan pimpinan KPK; (3) KAHMI akan menempuh upaya: melaporkan ke Majelis Kode Etik KPK dan menempuh upaya hukum serta melaporkan ke Mabes POLRI.

Apabila ada langkah-langkah lain yang dilakukan oleh kader-kader HMI atau KAHMI di seluruh Indonesia untuk memaksa Thony Saut Situmorang memakan sendiri “bubur panas” yang ia sajikan ke ruang publik, mari lakukan dengan cara-cara yang tidak merugikan diri kita sendiri. Yakin Usaha Sampai!!!

*Penulis adalah alumni Pascasarjana Ilmu Politik UI, Dosen dan Praktisi Hukum.