Kemandirian Pesantren dalam Pemberdayaan Ekonomi Ummat

oleh -

Muchlis-STAIN-PWOleh: Achmad Muhlis*
Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki konsep dan keunikan tersendiri dalam mengelola pendidikan berbasis masyarakat, sehingga wajar kalau pesantren dianggap sebagai lembaga pendidikan agama yang memiliki peran yang sangat strategis dan multifungsi, baik sebagai agen perubahan sosial, agen pemberdayaan ekonomi masyarakat maupun penjaga nilai budaya tertentu.

Ke-khas-an dan keunikan inilah, yang mengantarkan pesantren sebagai sub-kultur dari masyarakat sekitarnya di Indonesia.

Pesantren dengan kultur dan latar belakang yang hampir sama, tetapi tetap memiliki tingkat kemajuan yang berbeda, termasuk peran serta pesantren dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Antara satu pesantren dengan pesantren yang lainnya memiliki ciri khas tersendiri.

Pemberdayaan ekonomi  masyarakat sekitar pesantren ini menarik untuk didalami, dikaji dan dianalisis secara mendalam dalam berbagai perspektif terutama dalam perspektif pendidikan ekonomi, sebab pesantren merupakan bagian terpenting dalam pengembangan pembangunan pendidikan karakter dan pembangunan ekonomi global.

Saat ini, diakui atau tidak pesantren menjadi barometer dan tolok ukur pengembangan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, akhir-akhir ini semakin banyak para pakar dan ekonom yang berpikir bahwa tujuan dari seluruh kegiatan ekonomi bukanlah hanya untuk mencari kesejahteraan, kesenangan, kebahagian dan ketenangan berbasis materi semata, tetapi untuk memperoleh kesenangan, kebahagian dan ketenangan yang berbasis pada ke-jiwa-an.

Kesenangan, kebahagian dan ketenangan ternyata tidak hanya  diukur dan dipengaruhi oleh faktor kekayaan materi, menumpuknya harta semisal rumah berlantai serta mobil mewah saja, tetapi juga oleh faktor nilai-nilai spiritualitas manusia dalam mengembangkan identitas diri “ala bi dzikrillah tathma’innul qulub”, yakni hanya manusia yang selalu berdzikir “mengingat Allah” pada saat berdiri, duduk maupun berbaring dan selalu memikirkan “berpikir” ciptaan Allah.

Iaselalu merespon dengan “respon” yang positif setiap “setimulus” yang dikembangkan baik melalui mata, telinga maupun hati, yang pada akhirnya akan mampu mengembangkan potensi dirinya dan sadar akan “identitas diri” serta dapat mempengaruhi lingkungannya itu sebenarnya puncak Kesenangan, Kebahagian dan Ketenangan.

Seberapa banyak orang yang memiliki banyak harta, uang banyak, mobil gonta-ganti, semua falisitas memadai, pembantu juga ada, tetapi nyatanya ada yang tidak bahagia, karena untuk makan saja mereka harus dibatasi dengan penyakit yang diderita.

Jika demikian adanya, maka tidak ada artinya memiliki harta yang berlimpah, segala fasilitas tersedia dan lain-lain, padahal Islam mengajarkan bahwa Kesenangan, kebahagian dan ketenangan itu bukan hanya di dunia saja akan tetapi juga di akhirat kelak “fiddunya hasanah wa fil akhirah hasanah”.

Perlu disadari bersama bahwa sistem ekonomi saat ini yang kita banggakan merupakan sistem liberal yang telah menjadikan dunia saat ini sedang dalam keadaan “sekarat”. Salah satu buktinya, adalah krisis ekonomi berkepenjangan yang melanda beberapa negara baru-baru ini, baik di benua Amerika, Eropa maupun di Asia, termasuk Indonesia yang juga terkena imbas dari sistem ekonomi liberal.

Disinilah peran pesantren sangat potensial untuk dikembangkan serta dioptimalkan dalam menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi berbasis syariah sebagai jawaban dari sistem ekonomi liberal yang mencekik bangsa ini, dalam arti kajian fiqh muamalah kontemporer di pesantren perlu dikembangkan dan dioptimalkan. Karena diakui atau tidak pesantren memiliki peluang dan memiliki modal yang sangat besar untuk menguatkan dan mengembangkan serta mengoptimalkannya.

Kajian secara teoritis tentang fiqh muamalah di pesantren seharusnya eksis dan membumi, dalam artian teraplikasikannya dalam pengembangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat terutama sekitar pesantren, sehingga hal ini bisa menyelesaikan problem-problem transaksi yang tidak bersih serta tidak sesuai dengan tuntutan syariat, seperti sistem “ribawi” yang belakangan ini banyak muncul di permukaan saat ini sebagai akibat dari sistem kapitalis yang dibangun oleh sebagian besar masyarakat bangsa ini.

Maka inilah, momentum yang sangat tepat untuk mengembangkan model-model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren “syar’ie” yang dijamin dalam Alquran untuk mensejahterakan masyarakat sehingga kesenangan, kebahagian dan ketenangan akan diraih oleh setiap insan yang melaksanakannya “transaksi ala Rasulullah” yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keluhuran budi, dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Semisal sudah mulai muncul dan menjamurnya beberapa mini market, baitul mal watanwil (BMT) yang dikelola dan dikembangkan oleh beberapa pesantren di beberapa kota di Indonesia sebagai perwujudan memulainya perubahan paradigma, cara pandang dan cara pikir pesantren dari sistem ekonomi kapitalis ke sistem ekonomi berbasis pesantren (syar’ie).

Hal itu tidak semata-mata berkembang begitu saja tanpa dimulai dari lingkungan pesantren sendiri, artinya pesantren harus memulainya dengan mengembangkan hal-hal yang kecil dulu, semisal membuat dan mengembangkan Koperasi Pesantren dengan asumsi 50 persen modal atau saham dari “pesantren untuk pengembangan pesantren”, lalu 20 persen modal atau saham dari kiaipengasuh atau ustadz-ustadzah “untuk kesejahteran guru”.

Sebesar, 30% persen modal atau saham dari masyarakat sekitar atau dari alumni “untuk mendapat pembelajaran dari transaksi syar’ie yang dikembangkan oleh pesantren”, atau ada formulasi lain yang bisa diterapkan, 50 persen modal dari pesantren, 50 persen modal dari pihak ketiga.

Jika hal ini dapat dikembangkan dan dilaksanakan secara maksimal dan optimal, maka yang akan terjadi adalah pesantren akan menguasai perekonomian di Indonesia disamping pesantren dapat berkreasi dalam mengembangkan diri tanpa harus menunggu bantuan “uluran tangan” pemerintah maupun pihak-pihak lain yang secara politis mempengaruhi roda kepemimpinan dan sistem pembelajaran di pesantren.

Masyarakat sekitar pesantren juga menerima manfaat dari sistem yang kembangkan pesantren, elemen pesantren kiai, pengasuh, pengurus dan ustadz juga dapat manfaat dari sistem ini.

Disamping itu disadari atau tidak, pesantren akan mempengaruhi masyarakat sekitar pesantren pada khususnya maupun masyarakat luar pada umumnya, dalam bidang  sosial, budaya maupun politik. Misalnya pesantren dapat mempekerjakan alumni pesantren yang sedang menganggur.

Artinya, pesantren akan dapat mengurangi pengangguran dengan menyerap tenaga kerja sebanyak-banyak.

Disisi lain pesantren juga akan dapat menularkan budaya masing-masing pesantren sehingga akan terbentuk prilaku masyarakat yang sesuai dengan “tuntutan syar’i”.

Diakhir tulisan ini, penulis hanya bisa membanyangkan, berapa banyak jumlah pesantren yang ada di Indonesia yang dapat memprakarsai dan mau memulai pemberdayaan ekonomi pesantren secara mandiri, yang akan berdapak positif dan luar biasa, bukan hanya terhadap pengembangan ekonomi masyarakat berbasis “syar’ie” saja, tetapi juga pembentukan karakter dan budaya masyarakat, serta yang paling penting dapat mengurangi pengangguran. Wallahua’lam bis shawab.

*Penulis adalah Pembantu Ketua II Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.