Babinsa Ingatkan Para Penambang Pasir

by -
Babinsa Koramil 0826/13 Pasean, Sertu Usto mengingatkan para penambang pasir di Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, akan bahaya praktik penambangan pasir.
Babinsa Koramil 0826/13 Pasean, Sertu Usto mengingatkan para penambang pasir di Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, akan bahaya praktik penambangan pasir.

Pamekasan (PWINews) – Praktek penambangan pasir pantai oleh sebagian penduduk, menyebabkan abrasi atau pengikisan pantai karena air laut di wilayah utara Kabupaten Pamekasan semakin meluas jauh ke daratan. Pantai-pantai pasir yang indah semakin tergerus oleh ombak besar yang menghantam pantai.

Seperti halnya praktek penambangan pasir pantai yang dilakukan oleh masyarakat di pantai sekitar Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, yang mengakibatkan kerusakan pantai. Apabila praktek penambangan pasir ini dibiarkan akan menambah parah abrasi laut di sepanjang pantai Desa Batukerbuy.

Melihat persoalan tersebut, Babinsa Koramil 0826/13 Pasean, Sertu Usto tergerak hatinya untuk mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk menghentikan praktik penambangan pasir pantai. Dengan menyambangi warga binaannya di Dusun Solon, Desa Batukerbuy, hari Minggu (02.08.2015), Sertu Usto bersilaturahmi dengan beberapa warga dilokasi penambangan.
“Kalau pasir ditambang terus akan mengakibatkan abrasi dibibir pantai karena pengikisan air laut, sebab pasir yang menahan ombak sudah habis” terang Sertu Usto saat menjelaskan dampak dari penambangan pasir pantai kepada masyarakat.

“Mari kita kurangi dan bila perlu hentikan praktik penambangan pasir ini, kalo tidak maka anak cucu kita yang menanggung akibatnya karena pantai semakin rusak” imbuh Usto.

PWI-PENAMBANGAN-PASIR2Menanggapi penjelasan Babinsa, masyarakat pada dasarnya menyadari bahwa penambangan pasir pantai akan merusak bibir pantai. “Ini pekerjaan kami, jika tidak boleh menambang, pemerintah harus menyiapkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat” ungkap Muksin (39 tahun) salah satu penambang mewakili teman-temannya.

“Pihak Pemda Kabupaten dan Kecamatan sudah mengetahui ini (penambangan pasir), namun belum ada solusi yang ditawarkan” kata Sujek (36 tahun) menjelaskan.

Menurut penjelasan penambang, setiap kali menambang kira-kira mendapatkan pasir 2 (dua) sampai 3 (tiga) meter kubik, karena pengambilan pasir dilakukan secara manual menggunakan alat ember dan kaleng kemudian dibawa ketepi (pantai) dan ditimbun, namun itupun belum tentu langsung laku hari itu juga.

Satu pickup pasir dihargai Rp150.000,- sedangkan harga 1 (satu) dump truck pasir Rp400.000,- sehingga pendapatan penambang sehari antara Rp85 ribu sampai Rp100 ribu.

Diakhir silaturahmi, Babinsa Sertu Usto tetap mengajak warga Desa Batukerbuy untuk mengurangi atau bahkan menghentikan praktik penambangan pasir pantai dan memaksimalkan pekerjaan sebagai petani atau nelayan, karena sebagian penambang adalah petani dan nelayan.

“Tugas kami mengingatkan bapak-bapak, untuk menyelamatkan masa depan anak cucu kita,” tegas Sertu Usto. (Rilis Kodim 0826 Pamekasan 2 Agustus 2015)