Akademisi: Kurikulum 2013 Lestarikan Budaya Lokal

oleh -

Siful HadiPamekasan (PWINews) – Akademi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Dr Syaiful Hadi, menilai penerapan kurikulum 2013 memberikan ruang dalam melestarikan budaya lokal di masing-masing daerah.

Hal ini disampaikan Syaiful Hadi dalam dialog pendidikan bertema “Penerapan Kurikulum 2013 di Pamekasan” yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Persiapan Pamekasan yang digelar pada tanggal 27 Agustus 2014 di Kedai Kopi dan Baca Sebelas 12 di eks stasiun PJKA Jalan Trunojoyo, Pamekasan.

“Di kurikulum 2013 ini, pengelola pendidikan diberikan kesempatan untuk melakukan pengayaan bidang studi pelajaran,” kata Syaiful Hadi.

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam ini menjelaskan, selain memberikan ruang untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal, kurikulum 2013 ini juga lebih berorientasi pada semangat membentuk karakter anak didik lebih mandiri dan memahami ajaran agama.

Hanya saja, kata dia, penyelenggaran pendidikan memang dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pelajaran.

Syaiful Hadi menjelaskan, salah satu yang bisa diupayakan untuk memasukkan nilai-nilai budaya lokal pada bidang mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswa seperti pada bidang studi kewarganegaan dan ilmu pendidikan sosial dan pendidikan agama.

“Misalnya, semangat gotong royong dan sedekah,” katanya.

Pada bidang studi yang ada, katanya, sedekah sering dicontohkan pada kebiasaan masyarakat di luar Madura, padahal warga Madura sudah memiliki tradisi yang disebut “ter-ater” (saling memberi).

“Nah, kita coba masukkan di situ, sehingga siswa memiliki pengetahuan tentang tradisi ter-ater itu,” terang Syaiful Hadi.

Dengan cara seperti itu, katanya, maka wawasan pengetahuan tentang tradisi dan budaya Madura akan tertanam di masing-masing siswa peserta didik.

Hanya saja, kata Syaiful Hadi, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah pengayaan materi pendidikan, dalam arti mengubah contoh-contoh yang ada di dalam buku bidang studi yang diajarkan itu.

“Pemkab melalui instansi terkait, perlu memfasilitasi hal ini, kalau perlu melakukan lokakarya penyusunan materi pelajaran yang isinya berbasis budaya dan tradisi lokal Madura, yang akan digunakan sebagai buku paket di masing-masing sekolah,” pungkasnya. (Humas PWI Pamekasan)