PWI Pamekasan Dialogkan Masalah Tembakau

by -

IMG02891-20140813-2132(1)Pamekasan (Ciputranews.com) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mendialogkan persoalan tata niaga tembakau bersama Pemkab, DPRD dan akademisi Universitas Madura (Unira) Pamekasan, Jawa Timur, guna membahas persoalan tembakau pada musim tanam tembakau kali ini.

Dalam dialog yang terselenggara berkat kerja sama dengan Komunitas Kedai Baca dan Kopi Sebelas 12, Rabu (13/8) malam itu, PWI mengangkat tema dialog “Mengawal Tata Niaga Tembakau”.

“Dialog tentang Tata Niaga Tembakau ini sebagai upaya untuk mencairkan solusi alternatif atas persoalan tata niaga tembakau, serta sebagai bentuk sumbang saran dan gagasan kepada masyarakat Pamekasan,” kata Wakil Ketua PWI Pamekasan, Lutfi Alwi, Kamis siang.

Dalam dialog yang bertempat di Kedai Kopi dan Baca di eks stasiun PJKA Jalan Trunojoyo, Pamekasan, menghadirkan sebanyak empat orang nara sumbar, yakni Sekretaris Daerah Alwi Baek, mewakili Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bambang Edy Suprapto, Ketua Komisi B DPRD Hosnan Achmadi dan Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Unira Dr Taufiq Hidayat.

Sekda Alwi Baek membahas tentang “Kebijakan Daerah dalam Mengawal Tata Niaga Tembakau”, Kepala Disperindag membahas tentang “Teknik Pelaksanaan Tata Niaga Tembakau”, Hosnan Achmadi tentang “Regulasi Tata Niaga Tembakau” dan Taufiq Hidayat tentang “Bisnis Tembakau”.

Sekda menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk membantu melakukan pendampingan terhadap petani tembakau Pamekasan, bahkan pemkab telah mengalokasikan anggaran khusus untuk mengawal tata niaga tembakau.

“Ada tiga dinas teknis yang bertugas mengawal tata niaga tembakau saat musim tanam hingga selesai akhir masa panen tembakau,” kata Alwi.

Ketiga dinas teknis itu, Disperindag, Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pamekasan.

Disperindag bertugas mengawal tata niaga tembakau, Dishutbun tentang produksi tembakau, sedangkan Satpol PP mengawal Perda tentang Tata Niaga Tembakau, yakni Perda yang mengatur tentang upaya menjaga kualitas tembakau Madura, dengan cara melarang tembakau Jawa masuk Pamekasan.

Ketua Komisi B menyoroti tentang efektivitas pelaksanaan Perda di lapangan, serta fenomena perdagangan tembakau yang masih banyak pedagang mengambil sampel tembakau melebihi ketentuan, yakni 1 kilogram.

Ia juga menyinggung tentang perlunya Perda Tata Niaga Tembakau itu direvisi, karena menurutnya tidak efektif, bahkan melanggar ketentuan pasar dimana saat ini merupakan era pasar bebas.

“Dulu kan semangatnya untuk menjaga kualitas, tapi dalam perkembangannya kecenderungan pasar kan berubah,” kata Hosnan.

Sementara pemateri Bambang Edy Suprapto memaparkan tentang rencana pembelian tembakau oleh pihak pabrikan pada musim tanam tahun ini, serta data tentang hasil produksi tembakau Pamekasan dan Madura pada umumnya dari tahun ke tahun.

Ia menjelaskan di Madura, luas areal lahan tembakau tahun sebanyak 53.155 hektare atau sekitar 86 persen dari total luas areal tembakau, dengan perkiraan produksi sebanyak 31.893 ton.

Perinciannya meliputi di Pamekasan luas areal tanam tembakau tahun ini sebanyak 26.906 hektare dengan perkiraan produksi mencapai 16.143 ton. Sampang sebanyak 8.750 hektare dengan perkiraan produksi mencapai 5.250 ton dan di Kabupaten Sumenep sebanyak 17.500 hektare dengan perkiraan produksi mencapai 10.500 ton.

“Kalau rencana pembelian yang disampaikan pihak pabrikan pada musim tanam tembakau tahun ini untuk Kabupaten Pamekasan sebanyak 24.079 ton, jauh lebih banyak dari perkiraan produksi di Pamekasan yang hanya 16.143 ton,” terang Bambang.

Sementara, pemateri Dr Taufiq Hidayat lebih menitik tekannya pada potensi bisnis tembakau.

Ia menjelaskan, kebutuhan produksi tembakau setiap tahunnya diperkirakan akan tetap cenderung meningkat, seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk di Indonesia. Bahkan saat ini, sebagian pabrikan sudah ada yang membeli tembakau dari luar negeri atau impor.

Tembakau, Madura, kata dia, sebenarnya merupakan tembakau yang memiliki peluang pasar potensial dengan aromanya yang khas dan sangat dibutuhkan untuk industri rokok kretek.

“Keunggulan lainnya, karena tembakau Madura melalui proses rajangan,” kata Taufiq.

Dalam dialog yang dipandu oleh reporter Radio Karimata FM Suhiq Qodri itu, juga dihadiri perwakilan petani tembakau Pamekasan, perwakilan aktivis mahasiswa intra dan ektra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergarakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Koordinator Kedai Baca Pamekasan Dedy Kurniawan menyatakan, dialog rutin bersama PWI Pamekasan itu, sebagai upaya untuk menciptakan tradisi intelektual dalam berupaya menyelesaikan persoalan yang terjadi di Pamekasan sekaligus sebagai bentuk pembelajaraan untuk meningkatkan wawasan keilmuan. (ciputranews.com)