Category: Lifestyle

Selama 2018, Jumlah Janda di Bangkalan Terdata 1.516 Orang

PENAWARTA.COM – Jumlah janda di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, tahun 2018 mengalami peningkatan sesuai dengan data kasus perceraian di Pengadilan Agama (PA) setempat.

Dalam dua tahun terakhir ini, kasus perceraian yang ditangani PA Bangkalan tahun 2017 kasus perceraian mencapai 1.413. Sementara pada tahun 2018 naik mencapai 1.516 perkara. Jumlah perkara yang masuk PA Bangkalan Tahun 2017 mencapai 2.695, sedangkan perkara yang masuk tahun 2018 mengalami penurunan dengan jumlah 2577.

Meskipun perkara tahun 2018 yang masuk mengalami penurunan namun perkara yang marak terjadi adalah kasus perceraian hingga mencapai 1.516.

Kasi Humas Pengadilan Agama Kabupaten Bangkalan H. Supriady mengatakan, perkara Pengadilan Ag itu dibagi dua yaitu permohonan dan gugatan.

“Dan gugatan itu terdiri yang paling banyak perceraian yang dilakukan pihak laki-laki, memohon perceraian dan dilakukan pihak perempuan melayangkan gugatan cerai,” katanya kepada media belum lama ini.

Namun masalah kenaikan atau penurunan perkara yang diatasi pengadilan agama tahun ini mengalami penurunan, dengan bervariasi latar belakang permasalahan yang menimbulkan perceraian.

“Permasalahan timbul perceraian lebih banyak karna faktor ekonomi, ada yang ekonominya mapan tapi bertengkar, ada yang suaminya terjerat narkoba,” ungkapnya.

Pihaknya juga menambahkan, Pengadilan Agama Bangkalan sebenarnya timbul tanda tanya, mengapa Indonesia menganut cara mempermudah pernikahan dan mempersulit penceraian, karena supaya mereka bertahan demi anak-anaknya. Sebab, anak-anak itu adalah generasi masa depan bangsa kita.

“Dan timbulnya penceraian itu karna ada yang mengungkit-ungkit masa lalu, ada yang menyalahkan masa lalu,” jelasnya.

Pihaknya berharap, semaksimal mungkin akan merukun keluarga yang bermasalah dengan berbagai cara, seperti mediasi antar pihak, agar menemukan suatu jalan keluar.

“Kalau suatu permasalahan keluarga sudah di bawa kepengadilan, berarti masalahnya sudah parah, karna dari setiap lurah atau Desa sampai kecamatan pasti sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Namun apabila tidak menemukan jalan keluar maka dibawa kepengadilan,” katanya, menjelaskan. (PENAWARTA.COM)

Janda di Pamekasan mencapai 1.348 Orang

PENAWARTA.COM – Jumlah janda di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur kini terus meningat, dan hingga awal tahun ini terdata sebanyak 1.348 orang, sesuai dengan perkara cerai yang diputus di Pengadilan Agama setempat.

Tahun lalu, yakni tahun 2017, panitera Pengadilan Agama Pamekasan mencatat, angka peceraian di kota Gerbang Salam ini, hanya 1.313 orang. “Jadi ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Pamekasan Hery Kushendar dalam keterangan persnya kepada media belum lama ini.

Penyebab perceraian bervariatif, akan tetapi yang dominan karena masalah ekonomi, disamping karena pihak ketiga dan tidak menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.

“Data yang ada pada kami kasus perceraian di tahun 2017-2018 penyebabnya karena pertengkaran dan perselisihan secara terus menerus. Kalau kasus yang lain bisa dibilang sedikit,” ungkapnya.

“Iya kalau penyebab itu banyak, ada zina, mabuk, judi, meninggalkan salah satu pihak, dihukum penjara, ada lagi poligami, KDRT, cacat badan, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, kawin paksa, murtad, dan ekonomi,” tambahnya.

Dibanding Kabupaten Sumenep, jumlah perceraian di Pamekasan lebih kecil, sebab di kabupaten paling timur di Pulau Madura ini, tercatat sebanya 1.541 perkara hingga awal tahun ini.

“Kalau melihat perkara perceraian tiap bulannya, setelah direkapitulasi, ada peningkatan dibanding dengan tahun lalu. Tahun ini totalnya 1.541. Sedangkan tahun lalu 1.400 perkara,” ungkap Panitera Muda (Pamud) Hukum PA Sumenep, M. Arifin beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang ada, ada banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di kabupaten paling timur Pulau Madura ini. Dari sekian faktor, yang paling dominan ialah perselisihan yang terus menerus.

Kasus perceraian yang disebabkan adanya perselisihan yang terus menerus mencapai 1.017 perkara. Faktor kedua ialah karena ditinggalkan oleh satu pihak. Angkanya sebanyak 88 perkara.

Faktor lainnya ialah karena persoalan ekonomi 79 perkara; kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 53 perkara; dan ada beberapa faktor lagi, seperti kawin paksa, mabuk, dihukum penjara, zina, cacat badan, dan poligami.

Arifin menjelaskan, sebetulnya pihaknya sudah melakukan beberapa upaya untuk menekan angka perceraian. Di antaranya majelis selalu menasehati agar rukun kembali setiap kali sidang.

“Upaya lainnya ialah dengan cara melakukan mediasi. Mediasi biasanya dilakukan dua kali. Tapi kalau masih ada waktu, bisa lebih dari itu. Cuma kalau ke PA memang niatnya sudah ingin bercerai, biasanya sulit untuk dimediasi. Tingkat keberhasilannya sangat rendah,” katanya, menjelaskan. (PENAWARTA.COM)

Lelaki Lain Hettik Selfia

PENAWARTA.COM- Ahmad Najib Qodratullah, SE, anggota DPR-RI nomor 471 Fraksi PAN Dapil Jabar II diduga berada dibalik perilaku Hettik Selfia dalam laporan kasus penganiayaan yang dituduhkan isteri kedua Muhammad Hadari, anggota DPRD Kabupaten Pamekasan.

Ahmad Najib Qodratullah yang sedang menjabat sebagai Ketua DPW PAN Jabar dikabarkan memberi sejumlah uang lewat Makmol (Caleg DPRRI dari PAN Dapil Madura) untuk biaya hotel isteri kedua Hadari, padahal Najib tahu Hettik Selfia bukan isterinya dan bukan stafnya.

Menurut Najib, isteri Hadari itu datang pada suatu malam menemui dirinya dibawa oleh Makmol, Caleg DPRRI Fraksi PAN Dapil Madura.

Makmol menyampaikan kepada Najib bahwa Hettik Selfia sedang bermasalah dengan suaminya dan minta agar diberi pekerjaan, saat itu Najib bergeming.

Menurut Najib, keesokan harinya isteri kedua Hadari ini datang lagi bersama Makmol, saat itu Makmol menawarkan agar Hettik Selfia bisa tinggal di rumah Najib, namun Najib tidak berkenan, Najib akhirnya memberi sejumlah uang lewat Makmol agar Hettik Selfia bisa sewa hotel dan selanjutnya Hettik Selfia diperbolehkan oleh Najib untuk bekerja bantu-bantu administrasi di kantornya.

Kasus ini terungkap setelah Hettik Selfia melaporkan Muhamad Hadari yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Pamekasan ke Mapolres Pamekasan atas kasus penganiayaan pada Selasa (9/4/2019) lalu.

Muhammad Hadari melalui Penasehat Hukumnya, Sulaisi Abdurrazaq (11/4/2019), telah mengklarifikasi bahwa sebenarnya penganiayaan terjadi karena Hettik Selfia cemburu berat karena di leher Hadari terdapat tanda merah bekas kecupan isteri pertama.

“HS ini langsung menuduh dan cemburu berat bahwa bekas kecupan itu adalah kecupan istri pertamanya. Karena itulah terjadi percekcokan,” katanya kepada wartawan.

“Klien saya itu dipukul berkali-kali menggunakan gagang sapu, masih ada bekasnya sampai sekarang, bahkan pernah di colok (sundut) dengan rokok menyala di dada MH, itu masih ada bekas nya juga. Klien saya juga pernah ditusuk dengan menggunakan kunci motor sampai terluka robek di tangannya. Ini dijahit di Puskesmas Pademawu,” lanjutnya, menjelaskan.

“Nah, nama Ahmad Najib Qodratullah dan Makmol ini muncul akhir-akhir ini setelah dikabarkan bahwa ternyata Makmol ini punya peran besar dalam kasus yang menimpa keluarganya, Makmol membawa isteri orang untuk ketemu Najib, dan Najib ternyata ikut membiayai isteri kedua Muhammad Hadari, baik hotel dan lain-lain, sehingga masalah menjadi runyam, Hettik Selfia melaporkan klien saya dengan laporan yang diputar balik, apalagi ini antara kader PAN dan kader NasDem, dalam hal ini klien kami yang dirugikan jelang Pileg 17 April 2019”, jelas Sulaisi menambahkan.

Najib, menurut Sulaisi Abdurrazaq, bahkan memberi sinyal menantang kliennya dengan mengatakan, “kalau dia suaminya merasa ga enak dari NasDem, ee, gua kenal ama Sekjend lo, satu Komisi ma gue, Jonef Late, kalau mau urusan ma gua boleh, gitu loo…”.

Atas dasar itu sebagai pejabat publik menurut kami tidak sepatutnya Najib berbicara seperti itu, apalagi tujuan kami hanya untuk ketemu dan bicara baik-baik mencari solusi masalah ini, namun ternyata moral dan Akhlaq Najib sebagai Ketua DPW PAN seperti ini,” jelasnya.

Sementara, Ahmad Najib Qodratullah saat dikonfirmasi langsung mengaku tidak tahu menahu tentang persoalan Muhammad Hadari dan Hettik Selfia.

“Saya tidak menau urusan konflik mereka, saya hanya dimintai tolong oleh Saudara Makmul untuk mencari pekerjaan untuk Hettik Selfia,” katanya saat dikonfirmasi wartawatan melalui pesan WhatsApp. (PENAWARTA.COM)

“MM” dan “ANQ” dalam Kehidupan Hettik Selfia

PENAWARTA.COM – Laporan dugaan kekerasan yang disampaikan perempuan asal Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, Hettik Selfia atas suaminya Muhammad Hadari ke Mapolres Pamekasan, terus mendapatkan tanggapan balik dari pihak terlapor.

Dalam jumpa pers yang disampaikan Muhammad Hadari bersama penasihat hukumnya beberapa hari lalu Hadari disebutkan, ada lelaki lain dalam kehidupan Hettik Selfia selain dirinya.

Lelaki itu berinisial “MM” dan “ANQ”. MM merupakan caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), sedangkan “ANQ” merupakan anggota DPR RI.

Hadari menuturkan, pernah pada suatu hari, saat Hettik dan Hadari bersantai di rumah kosnya di Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan Hettik langsung mengajak Hadari lari karena melihat ada MM dan QM. “MM ini adalah Caleg DPR RI dari PAN Dapil Madura,” kata penasihat hukum Muhammad Hadari, Sulaisi Abdurrazaq, menjelaskan.

Kala itu, tanpa berpikir panjang, Hadari langsung mengikuti keinginan sang istri dan membawa Hettik ke rumah salah seorang temannya. Setelah sampai dirumah teman Hadari itu, ternyata Hettik mengaku telah bertunangan dengan salah satu anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat berinisial ANQ.

Padahal dirinya pada saat itu masih sebagai istri sah Muhammad Hadari secara secara agama. Bahkan kepada Hadari Hettik mengaku telah dibelikan rumah oleh “ANQ” dan telah diberi pekerjaan.

“Tapi si Hettik ini bilang tidak akan melepaskan Hadari. Ini kan suatu cara berpikir yang aneh,” ucap Sulaisi yang dibenarkan oleh Muhammad Hadari saat bersama penasihat hukumnya Sulaisi yang menyampaikan hak jawab atas pemberitaan Hadari di media.

Hal lain yang juga menjadi titik klarifikasi pihak Hadari tentang pernyataan penasihat hukum Hettik Selfia yang menyebutkan bahwa sebelum melapor Muhammad Hadari pihaknya telah menyampaikan somasi kepada Hadari.

Padahal, kata Sulaisi, selama ini tidak pernah ada somasi kepada Muhammad Hadari, kecuali seseorang yang mengaku sebagai pengacara Hettik Selfia mengirim pesan melalui aplikasi whatshapp (WA), dan seolah-olah berharap dapat mengambil keuntungan dari hubungan antara Muhammad Hadari dan Hattik Selfia dengan membawa-bawa pasal dan sedikit tekanan bahasa berharap ada sinyal/respon dari Muhammad Hadari.

“Jadi, tidak pernah ada somasi, kalau mengirim WA kepada klien kami memang benar,” kata Sulaisi, menjelaskan. (PENAWARTA.COM)

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam Bergelar Kanjeng Raden Tumenggung

PENAWARTA.COM – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan istri Nayla Hasanah Baddrut Tamam menerima gelar kebangsawanan dari Karaton Surakarta pada 30 Maret 2019 dalam acara rangkaian Tingalan Dalem Jumenengan ke-15 Raja Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sampeyandalem Ingkang Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono XIII.

Bupati Baddrut Tamam bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H Baddrut Tamam Cakrahadipuro, sedangkan ibu, yakni Nayla Hasanah bergelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Hj Nayla Hasanah Adiningtyas.

Saat menerima gelar kebangsawanan itu, bupati didamping Kabag Humas Pemkab Pamekasan Soepriyanto dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Akhmad Sjaifuddin.

Tingalan Dalem Jumenengan merupakan salah satu ritual paling sakral karena memperingati hari ulang tahun kenaikan tahta raja. Rangkaian acara ini antara lain kirab pasukan keraton yang diiringi gending gamelan Jawa sebagai pembuka acara. Lalu dilanjutkan dengan tarian sakral Bedoyo yang dibawakan oleh sembilan penari.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Ibu Nayla Hasanah Baddrut Tamam, merupakan bagian dari beberapa pejabat pemerintah yang menerima gelar kebangsawaan pada acara rutin Tingalan Dalem Jumenengan di Karaton Surakarta itu.

Tahun lalu, yakni pada 12 April 2018, Karaton Surakarta juga memberikan gelar bangsawan kepada sejumlah pejabat saat pelaksanaan Tingalan Dalem Jumenengan ke-14 Pakoe Buwono (PB) XIII Hangabehi. Dua gelar di antaranya diberikan kepada Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono.

Gelar diberikan kepada orang yang dinlai telah berjasa dan memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya. Prosesi Tingalan Jumenengan ini ditandai dengan keluarnya Sinoehoen Pakoe Boewono XIII dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju Sasana Sewaka tempat berlangsungnya jumenengan. Dalam kesempatan itu juga digelar tarian Bedaya Ketawang oleh sembilan penari.

Sebelum acara Tingalan Dalem Jumenengan ini digelar, warga sekitar dan seisi karaton melakukan acara resik-resik yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Jumat, 29 Maret 2019.

Ganjar Pranowo mengatakan keraton beserta segala ritualnya merupakan bagian dari sejarah kebudayaan, sekaligus objek wisata.

“Jadi sudah semestinya aset ini selalu dijaga supaya bersih luar dan dalamnya, baik lahir maupun batin,” kata Ganjar Pranowo, seperti dilansir situs antaranews.com.

Ganjar Pranowo melakukan bersih-bersih karaton bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Mochamad Effendi, Asisten Deputi I Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan Mayor Jenderal TNI Wawan Kustiyawan; Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono Soedarmoningrat; Kepala Polda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Condro Kirono; Wali Kota Surakarta FX. Hadi Rudyatmo; Kepala Polres Kota Surakarta Komisaris Besar Ribut Hari Wibowo, dan peserta lainnya.

Acara bersih-bersih diawali dengan pertunjukan Tari Gugur Gunung kemudian dilanjutkan dengan apel yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo. Selanjutnya ada penyematan ikat kepala dan sapu oleh Gubernur kepada perwakilan peserta sebagai tanda memulai kegiatan bersih-bersih.

Sementara itu, Karaton Kasunanan Surakarta ini, berdiri pada 1744 dan hingga kini tetap terpelihara keindahan bangunan sebagai warisan budaya. (PAMEKASAN HEBAT)

Ribuan Pengendara Motor Se-Jatim Deklarasi “Safety Riding” di Pamekasan

PENAWARTA.COM – Sebanyak 2.500 pengendara sepada motor dari 150 lebih komunitas se-Jawa Timur menggelar deklarasi “Safety Riding” di Pamekasan, Madura, Sabtu (9/3/2019) malam.

“Kegiatan ini merupakan hasil kemitraan antara polisi dengan kelompok masyarakat,” kata Kanit Dikyasa Polres Pamekasan Iptu Sri Sugiharto saat menyampaikan sambutan dalam acara itu.

Kampanye keselamatan berkendaraan bermotor merupakan hal penting, karena jumlah kecelakaan lalu lintas di jalan raya sering terjadi dengan korban kebanyakan adalah masyarakat milenial.

Dari sekitar 30 kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya, sekitar 60 persen korbannya adalah pengendara pada usia milenial.

“Atas dasar itulah maka, polisi menggelar millenial road safety festival,” katanya, menjelaskan.

Ia menuturkan, di Pamekasan sudah terjadi sebanyak 11 kali kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 6 orang. Pada Februari menurun dengan jumlah korban meninggal sebanyak 5 orang.

“Dan melalui kerja sama baik bersama komunitas pengendara sepeda motor ini, kita berharap, angka kecelakaan lalu lintas di Pamekasan kedepan bisa terus ditekan, bisa menjadi ziro accident,” ujar Sugiharto.

Acara kolosal yang melibatkan yang melibatkan para pengendara sepeda motor dan pecinta touring ini digelar di lapangan Sedangdang Pamekasan.

Ketua Umum Master Max Community Chairul Umam menyatakan, selain untuk mendukung program menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kegiatan para komunitas touring sepeda motor ini juga dimaksudkan untuk menjalin keakraban antarasesama penggemar sepeda motor.

“Irul” sapaan karib pemuda asal Desa Kertagena Daja, Kecamatan Kadur, Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, kebersamaan dan keakraban antarkomunitas akan menjadi kekuatan dalam mewujudkan tata laksana pengendara taat lalu lintas.

“Terima kasih atas dukungan semua pihak. Sebab, tanpa dukungan dari semuanya, niat baik kami ini tidak akan terlaksana dengan baik,” kata Irul.

Deklarasi “Safety Riding” dalam rangka mendukung “zero accident” di jalan raya ini juga dimeriahkan dengan pesta kembang api dan musik tradisional daul Madura, serta bhakti sosial berupa pemberian santunan kepada anak yatim dan fakir miskin. (PW/Mtr/09/03/2019).

Berbaur “Ngevlog” dengan Mahasiswa Filipina

PENAWARTA.COM – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam “Ngevlog” bersama mahasiswa asal Negara Filipina di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, saat mahasiswa itu berkunjung ke Pendopo dan bertemu langsung dengan bupati muda ini.

Bupati “ngevlog” bersama Ibu Bupati Pamekasan, Naila Baddrut Tamam, dan dosen Unira Wildona Zumam, dan dua mahasiswa Filipina yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di kampus swasta yang beralamat di Jalan Raya Panglegur, Pamekasan itu.

Dalam video itu, mahasiswa dari Filipina, yakni Raymond M. Espedion dari Ilo-Ilo Science and Technology University (ISATU) Philipines mengaku senang bisa bertemu secara langsung dengan orang nomor satu di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Selain muda, Baddrut dinilai memiliki visi kuat dalam memajukan perekonomian di Pamekasan dan peduli dengan pengembangan ilmu pengetahun, dengan gerakan melek literasi yang kini sedang dicanangkan.

Raymond M. Espedion dan Hannah Grace A. melakukan pertukaran studi (Student Exchange) dari Ilo-Ilo Science and Technology University (ISATU) Philipines.

Selama berada di Pamekasan, kedua pelajar asal negara Filipina ini juga telah diperkenalkan banyak hal oleh pihak kampus, terutama batik tulis Pamekasan.

Unira juga membantu promosi yang telah dilakukan Pemkab Pamekasan dengan memperkenal batik tulis hasil kerajinan warga di wilayah itu kepada mahasiswa asal Filipina yang mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa di kampus Unira Pamekasan. (PW/Unira/1/2/2019)

Vanessa Angel Resmi Ditahan Polda Jatim

PENAWARTA.COM – Artis Vanessa Angel, tersangka kasus prostitusi daring (online) resmi ditahan oleh Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim).

“Terhitung mulai tanggal 30 Januari 2019 Vanessa Angel yang kita panggil hari ini sebagai tersangka, resmi kita lakukan penahanan,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera di Mapolda Jatim dalam keterangan persnya kepada media, Rabu (30/1/2019).

Surat perintah penahanan dengan tersangka Vanessa Angel itu resmi diterbitkan pukul 15.00 WIB hari ini.

“Terhitung mulai pukul 15.00 WIB, administrasi penyidikan terhadap penerbitan surat perintah penahanan sudah kita siapkan penahanannya,” ujar Barung.

Menurut Barung, penahanan Vanessa Angel sudah sesuai dengan syarat objektif, berdasarkan pasal yang disangkakan padanya dan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

“Resmi kita lakukan penahanan, sesuai dengan syarat objektif yaitu ancaman hukuman yang bersangkutan di atas 5 tahun,” kata dia.

Selain syarat obyektif, penahanan artis film televisi (ftv) itu juga dipertimbangkan dari syarat subjektif penyidik Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim.

“Adapun alasan subjektif dari penyidik yaitu, satu yang bersangkutan (berpotensi) menghilangkan barang bukti, melarikan diri kemudian mengulangi perbuatannya,” kata dia.

Pertimbangan tersebut, kata Barung, juga bakal terlampir di surat perintah penahanan Vanessa. Dengan penahanan ini, maka Vanessa terpaksa harus berada di Polda Jatim selama 20 hari lamanya.

Vanessa sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka karena terjerat pasal 27 ayat 1 tentang UU ITE. Dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara. (PW/VNS/30/1/2019)

Sandiaga Uno Ngevlog Bersama Ribuan Santri Bata-bata

PENAWARTA.COM – Calon Wakil Presiden RI Sandiaga Salahuddin Uno ngevlog di depan ribuan santri Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada malam penutupan Pekan Ngaji IV, Minggu (20/1/2019) malam.

Sandi “ngevlog” menjelang mengakhiri sambutannya di acara yang dihadiri perwakilan ulama dari enam negara dan dihadiri puluhan ribu orang itu.

“Nyalakan lampu senter smartphone kalian semua, dan saya akan ngevlog,” ucap Sandi sembari beranjak dari podium.

Sandi selanjutnya meminta RH M Tohir Abd Hamid menemaninya. Keduanya langsung membelakangi puluhan ribu hadirin.

Sandi selanjutnya menyatakan, ada beberapa kebiasaan masyarakat di era milenial saat ini. Jika banyak tidur, langsung memegang hp dan jika bepergian atau bertamu, maka yang ditanyakan dua hal.

“Ada wifi ngak disini? Ada colokannya ngak?,” ucap Sandi. “Itulah masyarakat kita saat jni,” katanya lagi.

“Dan saya bersama Ra Tohir di pondok pesantren ini, akan mengubah dunia, melalui pesantren ini,” kata Sandi.

Aksi ngevlog dua tokoh muda berbeda profesi ini, mampu membius hadirin yang datang pada acara malam penutupan Pekan Ngaji IV itu.

Apalagi, pola pengambilan gambar di layar lebar oleh tim video pondok pesantren dengan sistem 3D. (PW/PN/20/1/2019)