BEP Tembakau di Pamekasan Hanya Acuan Harga Beli

oleh -
Dialog tentang Tata Niaga Tembakau dalam program "Spektrum" hasil kerja sama antara PWI Pamekasan dengan JTV Madura di stasiun JTV Madura Jalan Ronggosukowati Pamekasan.

PENAWARTA.COM – Asosiasi Petani Tembakau Pamekasan (APTP) menyatakan, nilai break event poin (BEP) yang ditetapkan bersama antara perwakilan petani tembakau, pemkab dan perwakilan pihak pabrikan bukan merupakan patokan harga beli tembakau Pamekasan.

“Akan tetapi BEP hanya sebatas acuan nilai beli tembakau didasarkan pada biaya produksi, upah kerja petani dan biaya perawatan selama masa tanam hingga panen,” kata Ketua APTP Samukrah.

Saat dialog dalam program “Spektrum” yakni program dialog rutin mingguan hasil kerja sama antara PWI Pamekasan dengan JTV Madura Samukrah menjelaskan, BEP tersebut ditetapkan agar menjadi referensi bagi petani tembakau, dan pihak pabrikan.

BEP disusun bersama DPRD Pamekasan, Dinas Pertanian dan Holtikultura, Disperindag, Bagian Perekonomian, KUTP, KTNA dan KUTP serta Perwakilan Kuasa Pembelian Pabrikan Rokok atas komponen produksi dan pascaproduksi yang telah ditetapkan oleh Balitas Malang atas tembakau pancak 96.

“Jadi BEP tembakau ini, tidak sama dengan harga eceran tertinggi, beda. BEP hanya sebatas acuan, agar menjdi pertimbangan bagi kita semua,” ucap Samukrah.

BEP tembakau yang ditetapkan oleh tim gabungan itu itu terdiri dari tembakau sawah seharga Rp32.484 per kilogram, tembakau tegal Rp41.581 per kilogram dan tembakau gunung Rp55.101 per kilogram. Jika dirata-rata maka menjadi Rp42.643 per kilogram.

Penjelasan Ketua APTP Samukrah yang menjadi narasumber dalam dialog rutin program “Spektrum” hasil kerja sama antara PWI Pamekasan dengn JTV Madura tersebut meluruskan anggapa keliru yang berkembang di sebagian warga masyarakat bahwa BEP merupakan harga yang harus dibeli oleh pihak pabrikan.

“Dalam hal jual beli tembakau ini, harga ditentukan oleh kedua belah pihak. Pemerintah tidak bisa melakukan intervensi harga sebagaimana harga sembako,” katanya, menjelaskan.

Hanya saja, sambung dia, melalui penetapan BEP tersebut, dirinya dan para petani lainnya berharap, pihak pabrikan bisa membeli harga tembakau petani tidak dengan harga murah. (PENAWARTA.COM)