Mengenal Konsep Kepemimpinan Inovatif-Disruptif Baddrut Tamam

oleh -

Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif adalah tema materi yang disampaikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber atau dosen tamu di FISIPOL UGM pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

Ada dua istilah penting yang menjadi fokus bahasan Baddrut Tamam pada kuliah umum tersebut, yakni “inovatif” dan “disruptif”. Istilah disruptif dan inovatif (disruptive innovation) ini pertama kali dicetuskan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Menurut catatan wikipedia, artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan.

Dalam konteks ini, Inovasi disruptif (disruptive innovation) merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dengan demikian, titik tekan pada dua kata tersebut, disruptif dan inovatif gampangnya adalah pada inovasi dan kemampuan merespon perubahan secara cepat dan tidak menentu, menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Di lingkup kepemimpinan institusi pemerintah, hal penting yang perlu dilakukan adalah pentingnya membentuk paradigma baru dalam pengelolaan pemerintahan, yakni paradigma dalam mengelola pemerintahan. “Birokrasi yang kaku dan terlalu formal terlalu menguntungkan pada regulasi yang top down, sudah waktunya kita ubah,” kata Baddrut, seperti yang disampaikan kepada media.

Ia menilai sejak dulu birokrasi lebih dekat dengan kesan negatif, seperti lambat dalam pelayanan, tidak kreatif dan anti inovasi. Kini, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi, sehingga harus menerapkan cara berpikir dan bertindak yang lebih tepat, dan ia mencontohkan seperti yang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi swasta.

Bertindak cepat ini, hanya berpotensi dilakukan oleh badan ramping, yang dalam konteks pemerintahan ia istilahkan dengan postur birokrasi. “Postur birokrasi tidak boleh lagi gemuk, tambun dan lamban. Tetapi harus ramping, efesien dan gesit. Dalam istilah konsep kebijakan publik, muncul yang namanya ‘new public management‘,” sambung pria yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya yang juga perlu dipahami oleh para pemimpin dan pengelola manajemen organisasi adalah tantangan kepemimpinan di era disruptif. “Prinsipnya ada banyak gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan di era disrupsi seperti saat ini, di antaranya harus memiliki terobosan, memberikan kesempatan dan kebebasan bagi tim,” bebernya.

Bahkan dalam kesempatan itu, Badrut Tamam juga menyampaikan beberapa capaian inovasi yang dilakukan selama beberapa bulan memimpin Pamekasan. Di antaranya kesuksesannya merealisasikan Mal Pelayanan Publik (MPP), pelayanan aplikasi berbasis online, branding batik hingga program bursa inovasi desa.

Tiga Hal Penting
Terkait pola kepemimpinan inovatif di era disruptif ini, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr KH Abdul Wahid Maktub dalam sebuah orasi ilmiah dalam seminar kebangsaan yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni BSI yang didukung oleh Bidang Kemahasiswaan BSI, belum lama ini mengemukakan, ada tiga poin utama untuk dapat menghadapi perubahan serta mampu bertahan di era yang serba penuh ketidak pastian ini.

Ketiga hal tersebut adalah iteration, innovation, dan disruption. Iteration dimaksudkan melakukan hal yang sama tetapi dilakukan dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik. Selanjutnya, innovation adalah dengan melakukan perubahan serta menemukan hal yang baru, dan ketiga disruptif, yakni masyarakat harus men-disruptif diri sendiri dengan perkembangan era saat ini, sehingga mampu melakukan perubahan.

“Jika mahasiswa tidak men-disruptif dirinya sendiri dengan perubahan era saat ini, dengan mengubah diri menjadi lebih baik dan berinovasi – maka, kesempatan ini dapat menjadi hadiah bagi orang lain,” papar Maktub kata itu.

Ketiga kunci ini, lanjut Maktub, harus berimbang dengan sikap responsif dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Selain itu juga harus memiliki kesiapan yang matang.

“Kesiapan yang paling utama adalah dengan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang mampu menuntun kita untuk melakukan perubahan dan berinovasi. Diimbangi dengan kejelasan tujuan, tangkas dan cepat. Selain itu, juga harus memiliki self control seperti tidak malas, dispilin, berprestasi, saling menghormati serta mampu memimpin diri sendiri apabila ingin bertahan di era disruptif,” katanya, menambahkan.

Dalam konteks lokal Pamekasan, konsep kepemimpinan inovatif-disruptif (disruptive innovation) ini bisa dilihat misalnya dari terobosan yang telah dilakukan selama ini. Antara lain pada branding batik tulis di kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan.

Baddrut, selaku bupati, berupaya bergerak di luar jalur kotak (out of the box), bahkan kendaraan dinas hanya sebatas penunjang kegiatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas dan rutinitas organisasi, menjadi sesuai yang bernilai ekonomis, yakni media promosi usaha perajin batik tulis masyarakat. Sebuah upaya dan terobosan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Demikian juga dengan keberadaan “Mall Pelayanan Publik”.

Anggaran untuk membuat program kegiatan, cenderung menjadi kendala. Tapi Bupati Baddrut Tamam mampu menyiasati itu semua, dengan sistem kerja sama dan sama kerja antarberbagai organisasi perangat daerah. “Jika hasilnya belum maksimal itu wajar, wong kita membuat ‘Mall Pelayanan Publik’ ini tanpa anggaran,” katanya dalam sebuah kesempatan. (TIM PENAWARTA.COM)