Manajemen Daftarkan Nama Stadin Gelora Madura Ratu Pamelingan ke LIB

oleh -
Peluncuran nama baru stadion Pamekasan dari sebelumnya "Stadion Gelora Ratu Pamelingan" menjadi "Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan". Penambahan kata "Madura" pada nama stadion ini, karena Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menginginkan stadion Pamekasan menjadi representasi dunia sepak bola di Pulau Madura.

PENAWARTA.COM – Manajemen Madura United FC, yakni PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) langsung mendaftarkan nama Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan ke PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator pertandingan pada liga 1 Indonesia 2019.

“Nama ‘Gelora Madura Ratu Pamelingan’ sebagai nama stadion Pamekasan langsung kami daftarkan, sehingga pada musim kompetisi kali ini, nama stadion di LIB adalah ‘Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan,” kata Direktur PT PBMB Ziaul Haq kepada penawarta.com, Selasa (9/4/2019).

Pada musim kompetisi Liga 1 Indonesia 2018, nama stadion Pamekasan, “Gelora Ratu Pamelingan”, tanpa kata “Madura”. Namun, pada kompetisi tahun ini, ditambah kata “Madura”, sehingga menjadi “Gelora Madura Ratu Pamelingan”.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menambahkan kata “Madura” pada nama stadion Pamekasan, sehingga nama stadion yang terletak di Desa Ceguk, Kecamatan Talanakan itu berubah, dari “Gelora Ratu Pamelingan” menjadi “Gelora Madura Ratu Pamelingan”.

Bupati menjelaskan, penambahan kata “Madura” pada Gelora Ratu Pamelingam, menjadi “Gelora Madura Ratu Pamelingan” itu, karena ia ingin stadion Pamekasan menjadi representasi pusat sepak bola di Pulau Madura.

“Bangkalan sudah memiliki stadion. Sampang dan Sumenep sebentar lagi memiliki stadion yang bersumber dari dana pemerintah pusat,” kata bupati.

Nama-nama stadion yang ada selama ini, semisal Stadion Gelora Bangkalan, adalah nama lokal berdasarkan kabupaten.

“Nah, ketika nama ‘Madura’ kita masukkan pada nama stadion di Pamekasan, maka tentu orientasi publik tentang pusat sepak bola Madura ini pada Pamekasan, bukan ke kabupaten lain di Madura ini yang juga memiliki stadion,” kata bupati.

Sedangkan, nama “Ratu Pamelingan” tetap ia pertahankan, karena nama itu bagian dari sejarah Pamekasan, dan merupakan hasil sayembara masyarakat Pamekasan yang melibatkan tokoh sejarawan dan budayawan Pamekasan.

“Karena itu, nama ‘Ratu Pamelingan’ tetap kita pasangan. Dan saya selaku Bupati Pamekasan adalah bagian dari penerus Pamelingan,” kata bupati.

Melalui nama “Gelora Madura” ini bupati ingin membangun persepsi bahwa Pamekasan adalah pusat dunia olahraga sepak bola di Pulau Madura, bukan di tiga kabupaten lain yang ada di Pulau Madura.

“Dan representasi Pamekasan sebagai pusat pemerintahan di Madura ini kan sudah ada sejak dulu. Makanya Pamekasan disebut sebagai ‘eks karesidenan’ di Madura ini,” kata Bupati Baddrut Tamam saat berbincang dengan manajemen klub Madura United FC beberapa waktu lalu.

Direktur PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) Ziaul Haq menilai, gagasan menambahkan nama “Madura” pada nama stadion Pamekasan yang sebelumnya “Gelora Ratu Pamelingan” menjadi “Gelora Madura Ratu Pamelingan” merupakan gagasan visioner sang bupati muda.

Ia menilai, alam pikiran Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mampu membawa peluang masa depan Pamekasan dikaitkan dengan keberadaan stadion di kabupaten lain, sehingga kata “Madura” di stadion Pamekasan perlu dipasang tanpa harus merubah nilai sejarah dan mengabaikan hasil sayembara hasil sumbangan masyarakat Pamekasan.

“Ini adalah pemikiran visioner bupati, yang ingin menjadi Pamekasan sebagai pusat sepak bola di Pulau Madura ini, sehingga ketika berbicara sepak bola Madura, maka orienatasi dan persepsi publik adalah pada Pamekasan dan orientasi stadion sepak bola yang ada di Madura adalah pada stadion yang ada di Pamekasan ini,” kata Habib, sapaan karib Ziaul Haq itu. (PENAWARTA.COM)