Harga beli Dukungan Suara Pileg di Pamekasan Naik Menjadi Rp100 ribu

oleh -
Ilustrasi praktik suap pemilu

PENAWARTA.COM – Harga beli dukungan suara untuk calon legislatif di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur kini naik, dari sebelumnya Rp50 ribu menjadi Rp100 ribu per orang.

Harga beli dukungan suara yang mencapai Rp100 ribu ini, umumnya untuk wilayah Kecamatan Proppo, dan beberapa kecamatan di wilayah utara Pamekasan.

Untuk Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kadur, harga beli dukungan suara yang ditetapkan calon pemilih kepada calon legislatif, sementara tetap, yakni Rp50 ribu.

“Tapi, ada juga di daerah kami yang mematok Rp75 ribu persuara, tapi dengan sistem paket,” kata salah seorang calon pemilih di Kecamatan Larangan, saat berbincang dengan tim penawarta.com, Minggu (14/4/2019).

Yang dimaksud dengan sistem paket ialah menentukan pilihan pada dua caleg dengan tingkatan berbeda, yakni tingkat kabupaten dan provinsi.

Untuk tingkat kabupaten senilai Rp50 ribu, sedangkan untuk nilai beli dukungan suara untuk tingkat provinsi sebesar Rp25 ribu, sehingga nilai totalnya mencapai Rp75 ribu.

Dengan ketentuan harga beli dukungan yang dipatok oleh calon pemilih ini, maka seorang caleg minimal mempersiapkan uang sebesar Rp1 miliar untuk bisa mendapatkan dukungan minimal 10 ribu suara, apabila harga beli dukungan Rp100 ribu, atau Rp500 juta untuk harga beli Rp50 ribu per orang.

Berdasarkan hasil penelusuran penawarta.com, harga jual beli dukungan suara ini dianggap wajar oleh kalangan DPRD dan para politisi di Kabupaten Pamekasan, karena dianggap sebagai uang ganti bensin, saat pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Istilah “Tongket/Settong Saeket” yang berarti satu suara Rp50 ribu, adalah istilah yang sangat populer dan menjadi bahaya guyonan di kalangan masyarakat Pamekasan, menjelang pesta demokrasi seperti sekarang ini.

Istilah lain yang juga populer saat pemilu adalah “berse/beres bhen pesse” yang artinya adalah beras dan uang. Istilah ini mengemuka, karena ada sebagian caleg pada pemilu sebelumnya yang membagi-bagikan beras dan uang kepada para pemilih, agar mencoblos dirinya saat di TPS.

Praktik jual beli dukungan suara, seperti dalam istilah populer “tongket” dan “berse” ini hampir “jamak” dilakukan semua politisi dari berbagai partai politik.

Praktik bagi-bagi uang ini, sudah menjadi rahasia umum, namun tidak pernah terungkap oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), karena antara pemberi suap dan penerima suap, sama-sama merasa diuntungkan. (PENAWARTA.COM)