Polisi Periksa Kekerasan Wartawan di “Munajat 212”

oleh -

PENAWARTA.COM – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Argo Yuwono mengatakan polisi terus menyelidiki kasus kekerasan terhadap wartawan yang meliput acara Munajat 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019) kemarin. Ia menuturkan sampai saat ini, dua orang saksi telah dimintai keterangan terkait kasus tersebut.

“Untuk Polres Jakarta Pusat sudah menerima laporan kemudian tindak lanjutnya sudah memeriksa dua saksi. Saksi pelapor dan temannya dan sudah memintakan visum,” ujarnya saat di Polda Metro Jaya, Senin (25/2/2019).

Kemudian, Argo juga mengatakan, dari pemeriksaan terhadap dua saksi itu, tim penyidik akan menentukan langkah selanjutnya. Namun, ia tak menjelaskan langkah apa yang nantinya diambil oleh penyidik.

“Nanti kita tunggu pemeriksaan berikutnya,” kata Argo.

Sebelumnya Wartawan Detik.com, Satria Kusuma melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya pada saat melakukan peliputan di acara Munajat 212 di Monas, Kamis (21/2/2019) malam. Kasubag Humas Polres Jakarta Pusat Kompol Purwadi mengatakan telah menerima laporan tersebut.

Laporan Satria diterima dengan nomor 358/K/II/2019/ RESTRO JAKPUS tanggal 22 Februari 2019.

“Alhamdulillah ada [laporan] atas nama pelapor Satria Kusuma, dilaporkan pada hari Jumat 22 Februari 2019 jam 00.15,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (22/2/2019).

“Perkara yang dilaporkan: Bersama-sama dimuka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau barang,” tambahnya.

Purwadi mengatakan saat ini pelaku masih dalam penyelidikan oleh pihak kepolisian. Atas kejadian tersebut, pelaku dikenakan pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

“Pasal yang dikenakan, Pasal 170 KUHP. Pelaku masih dalam penyelidikan,” kata Purwadi.

Munajat 212 Diwarnai Kekerasan
Sementara, gelaran Malam Munajat 212 yang semula berlangsung lancar dinodai aksi kericuhan, dan persekusi disertai kekerasan terhadap wartawan, Kamis (21/2/2019) malam. Salah satu yang mengalami kekerasan dan penganiayaan saat meliput Malam Munajat 212 yang berlangsung di Monas, Jakarta Pusat, semalam adalah wartawan detik.com.

Terkait tindak kekerasan dan penghalangan kerja jurnalistik ini detikcom melaporkan kejadian ini kepolisian. Dengan harapan kejadian serupa tidak terjadi lagi pada wartawan lain yang sedang menjalankan fungsi jurnalistiknya,’ demikian pernyataan detikcom lewat artikel berjudul, Penjelasan Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Jurnalis detikcom, Jumat (22/2).

Selain itu, disebutkan detik.com pun mengutuk keras kekerasan terhadap jurnalis dan upaya menghalangi peliputan jelas melanggar UU Pers terutama pasal 4 tentang kemerdekaan pers.

Detikcom adalah media yang independen, objektif dan berimbang dan mendukung penuh perjuangan terhadap kebebasan pers,’ kelanjutan dari pernyataan detik.

Media daring itu pun merilis kronologi penganiayaan wartawannya yang bernama Satria Kusuma saat melakukan tugas jurnalistik semalam lewat artikel yang sama tersebut.

Kejadian itu berlangsung saat Satria sedang meliput acara Malam Munajat 212, Kamis (21 Februari 2019), di Monas. Pada sekitar pukul 20.30 terjadi kericuhan yang posisinya di dekat pintu keluar VIP, arah bundaran patung Arjuna Wiwaha. Menurut informasi yang beredar kala itu ada seorang pencopet yang tertangkap.

Menanggapi kericuhan tersebut, sebagai jurnalis Satria pun langsung mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel yang merupakan alatnya untuk bekerja sebagai jurnalis daring.

“Satria tidak sendirian, karena pada saat itu ada wartawan lainnya yang juga merekam peristiwa tersebut,” demikian tertulis dalam penjelasan detik.com.

Pada saat merekam video itulah, Satria dipiting dan dipegangi kedua tangannya. Para pelaku yang berlaku kasar pada Satria itu meminta sang wartawan menghapus video yang sudah direkamnya. Akibat ditekan dan dipaksa orang yagn berkerumun semakin banyak, disebutkan bahwa Satria setuju rekaman video itu dihapus.

“Satria lalu dibawa ke ruangan VIP mereka. Di dalam tenda tersebut intimidasi terus berlanjut. Adu mulut terjadi lagi saat mereka meminta id card Satria buat difoto. Tapi Satria bertahan, memilih cuma sekadar menunjukkan ID Card dan tanpa bisa difoto,’ demikian lanjutan artikel penjelasan detikcom tersebut.

“Dalam ruangan yang dikerumuni belasan –atau mungkin puluhan– orang berpakaian putih-putih tersebut, Satria juga sempat dipukul dan diminta untuk jongkok. Tak sampai situ, mereka yang tahu Satria adalah wartawan detikcom juga sempat melakukan tindakan intimidatif dalam bentuk verbal,’ demikian lanjutannya.

Selanjutnya, tekanan sejumlah orang tersebut terhadap Satria mereda setelah ia mengatakan sudah pernah membuat liputan FPI saat membantu korban bencana di Palu, Sulawei Tengah.

“Begitu pun saat mereka mengetahui benar-benar kalau Satria bukan wartawan bodrex. Pun mereka juga tahu kalau Satria sudah komitmen akan menghapus semua video di ponselnya. Satria dilepas usai diajak berdiskusi dengan salah satu orang mereka, yang mengaku pihak keamanan Malam Munajat 212, dan mereka kebetulan sesama orang Bogor. Namun jaminannya bukan ID Card dan KTP yang diberikan, melainkan kartu pelajar. Satria pun dilepas dan kembali menuju kantor,’ demikian pada bagian akhir penjelasan detik.com tersebut.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengecam atas persekusi berujung kekerasan yang dilakukan sejumlah oknum terhadap wartawan peliput Malam Munajat 212.

Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani Amri mendesak aparat kepolisian untuk menangkap para pelaku dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya.

“Agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang,” kata Asnil lewat keterangan tertulis, Jumat (22/2).

Selain itu, Asnil mengimbau masyarakat agar tidak melakukan intimidasi, persekusi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang liputan. Asnil juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis sebelumnya.

“Sebab, hingga kini belum ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tuntas sampai pengadilan,” tegasnya.

Selain terhadap wartawan detik.com, Asnil menjelaskan persekusi pun dialami pewarta dari CNNIndonesia TV. Kamera yang dipegang jurnalis CNN Indonesia TV cukup mencolok sehingga menjadi bahan buruan sejumlah orang. Massa yang mengerubungi bertambah banyak dan tak terkendali. Beberapa orang membentak dan memaksa jurnalis menghapus gambar kericuhan yang sempat terekam beberapa detik.

Dewan Pembina Majelis Syuro FPI, Habib Muhsin Al Attas saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui kabar dugaan persekusi yang dilakukan oknum FPI tersebut di lapangan.

Kendati demikian, Muhsin mengatakan tak ada perintah apapun kepada para anggota FPI untuk melakukan pengawasan secara berlebihan kepada para jurnalis yang meliput Malam Munajat 212. (PW/PWI/25/2/2019)