Bupati: Cegah Kematian Korban DBD dengan PSN-3M Plus

oleh -
Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menghadiri acara workshop Pencegahan dan Penanggulangan DBD.

PENAWARTA.COM – Upaya untuk mencegah korban kematian penderita demam berdarah dengue (DBD) perlu peran aktif semua elemen masyarakat, karena salah satu faktor penyebab DBD adalah kesehatan lingkungan yang kurang terjaga dengan baik.

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, saat menyampaikan sambutan dalam acara workshop Pencegahan dan Penanggulangan DBD, upaya untuk mengatasi kematian korban DBD dengan cara “PSN 3M Plus” yakni mengurus, menutup penampungan air dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas.

Menurut dia, terwujudnya individu dan masyarakat yang mandiri dalam mencegah dan melindungi diri dari penularan DBD melalui optimalisasi kegiatan “PSN 3M plus” dimaksudkan untuk meningkatkan persentase kabupaten yang mencapai angka kesakitan DBD kurang atau sama dengan 49 per 100.000 penduduk.

“Strategi yang harus dilakukan agar tujuan ini tercapai, adalah pengendalian faktor penular DBD dengan mengedepankan upaya pemberdayaan masyarakat dalam ‘PSN 3M plus’ melalui gerakan 1 rumah 1 jumantik,” katanya.

Selain itu, penguatan sistem survei juga penting untuk mendeteksi dini, melakukan pencegahan dan pengendalian kasus serta kejadian luar biasa (KLB) DBD.

Koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan untuk saling mendukung dan mensukseskan program, juga penting dilakukan.

Sementara itu, penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir ini memang cenderung menurun.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan, data itu berdasarkan data hasil laporan tahunan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, yakni mulai tahun 2016 hingga 2018.

“Kami berharap, penurunan angka penderita DBD terus bisa ditekan, dengan cara terus aktif mengkampanyekan pola hidup sehat,” kata Baddrut Tamam di Pamekasan, Selasa (12/2/2019).

Ia merinci, Pada tahun 2016 jumlah warga Pamekasan yang terdata menderita DBD sebanyak 265 orang, tahun 2017 sebanyak 230 kasus dengan angka kematian sebanyak 6 orang dan pada tahun 2018 sebanyak 176 kasus dengan angka kematian sebanyak 8 orang.

Keadaan ini, sambung dia, erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi, serta tersebar luasnya virus dengue penyakit ini melalui gigitan nyamuk aedes aigypti.

Faktor lain yang mempengaruhi DBD adalah perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan air berih.

Bupati mengatakan, sampai saat ini penyakit DBD belum ada obat atau vaksin yang spesifik, tetapi kalau pasien berobat dini dan mendapat penatalaksanaan yang adekuat, umumnya kasus-kasus ini dapat diselamatkan.

Maka, sambung bupati, cara yang dilakukan saat ini, dengan menghindari atau mencegah gigitan nyamuk penular DBD. Oleh karena itu, upaya pengendalian DBD penting melalui pengendalian nyamuk penular (aedes Aigypti). (PW/DBD/12/2/2019)