Kemenag Sampang Sebut Hilangnya Uang Tunjangan Guru di BTN Karena Eror

by -
Abdul Wafi, suami Yenni Tri Yulianti Anggraini (34), guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) asal Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur menunjukkan buku rekening Bank BTN, karena saldo direkening milik istrinya tiba-tiba hilang.

PENAWARTA.COM – Kementerian Agama (Kemenag) Sampang, Madura, Jawa Timur menyebut, kasus hilangnya uang tunjangan guru MI secara misterius di Bank BTN karena eror.

Kasi Pendidikan dan Madrasah (Pendma) Kemenag Sampang Mawardi menyatakan, pihaknya akan segera memproses tunjangan fungsional yang hilang milik guru MI Raudatul Islam, di Desa Sokobanah Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timut itu. [Baca Juga: Tunjangan Guru MI di Sampang Hilang Misterius]

“Kita akan cek ke bank BTN dan akan segera diproses, mungkin besok karena hari ini kepala bank tidak ada di tempat,” kata Mawardi kepada wartawan Sampang.

Dirinya menuturkan, saldo rekening tunjangan milik Yenni yang bermasalah dipastikan karena sistem error.

Sebelumnya, Abdul Wafi (35), suami Yenni Tri Yulianti Anggraini (34), guru MI asal Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, yang tunjangan profesinya tiba-tiba hilang misterius menuturkan, itu diketahui setelah dirinya mendatangi langsung Bank BTN.

Di bank itu, ia mengeprint buku tabungan untuk mengetahui hasilnya. Ternyata, saldo di nomor rekening istrinya yang semula berjumlah Rp3 juta itu sudah dilakukan proses pencairan melalui ATM selama dua kali. [Baca Juga: Tunjangan Guru MI di Sampang Hilang Ternyata Dicairkan Pihak Lain]

“Yang diambil melalui ATM Minggu (13/1/2019). Pertama dicairkan Rp1.250.000. Kedua diambil Rp1,5 juta, dan saya dan istri saya tidak tahu siapa yang ngambil ini,” tuturnya dengan nada sedih.

Abdul Wafi meminta Kemenag dan BTN bertanggung jawab atas kejadian tersebut, bukan sebaliknya diminta untuk menunggu dan bersabar tanpa ada kepastian.

“Saya riwa-riwi kesana (Sokobanah) ke Kota sangat jauh, selain menyita waktu dan tenaga juga harus mengeluarkan biaya, lebih baik sibuk mengajar anak madrasah saja,” katanya.

Guru yang menjadi korban bernama Yenni Tri Yulianti Anggraini (34), guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) asal Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Penerima menduga menjadi korban sasaran kejahatan perbankan bermodus duplikasi data pribadi atau ‘skimming’.

Abdul Wafi (35), suami Yenni menuturkan, istinya merupakan penerima tunjangan profesi guru non-PNS yang diterima secara rapel sebesar Rp3 juta.

Namun, saat mengecek ke ATM Bank BTN, ia dibuat kaget, karena uang yang menjadi hak profesi istrinya sudah tidak ada di rekening.

“Padahal buku rekening dan ATM masih ditangan kami, waktu itu dicek ke ATM terdekat di Kecamatan Ketapang, sudah tidak ada saldo di nomor rekening istri saya,” ujarnya Wafi kepada wartawan di Sampang, Kamis (7/2/2019).

Berbagai upaya dilakukan Yenni dan suaminya Abd Wafi agar saldo tunjangan yang hilang tersebut ada titik terang.

Guru Yeni yang sudah mengajar 12 tahun di MI Raudatul Islam, Desa Sokobanah Tengah, Kecamatan Sokobanah ini juga sempat memberitahu ke Kantor Kemenag Sampang, tapi hingga kini belum direspon. (PW/Kemenag/10/2/2019)