Menuju Keluarga Hebat Ala Islam

oleh -
Keluarga Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

Oleh: Moh Hafid*
Banyak pasangan suami-istri yang mengimpikan kelurganya menjadi keluarga yang ideal. Pasalnya, bagi mereka keluarga ideal merupakan cerminan dari kesuksesan dalam menata dan merawat keluarga. Namun dibalik impiannya, mereka masih belum banyak mengerti maksud, serta makna keluarga ideal dalam Islam.

Keluarga ideal dalam Islam dapat juga dikatakan sebagai keluarga yang saleh. Didalamnya tertanam nilai-nilai yang ditargetkan oleh Islam yang meliputi ketenangan, mawaddah dan rahmah, sebagaimana dilansir dalam Al-Qur’an surah al-Rum ayat 21 yang artinya menyatakan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Kemudian hubungan antara suami-istri didalamnya digambarkan oleh Allah SWT sebagai selimut atau pakaian yang memiliki konotasi makna menjaga, menutup, hiasan, mendekatkan dan menempelkan sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 187 yang artinya menyatakan, “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”.

Hanya saja dalam peroses perjalanannya, mewujudkan keluarga yang ideal serta saleh dengan target serta gambaran yang telah digariskan oleh Islam diatas tidak semudah membayangkannya. Perlu usaha yang istiqamah, tekad yang kuat serta kesabaran yang luas untuk bisa mewujudkannya.

Maka dari itu sangat penting mengetahui langkah-langkah membentuk keluarga ideal yang ditwarkan Islam guna bisa sampai pada target dan tujuan sebagaimana dijelaskan diatas. Langkah-langkah tersebut diungkapkan oleh Prof Dr Yusuf al-Qardhawi dalam Bukunya “Al-khashaish al-Ammah Fi al-Islam sebagaimana berikut:

  1. Menjunjung tinggi prinsip saling pengertian dan saling ridha, karena pergaulan dalam sebuah keluarga tidak selalu putih. Ada hitam datang sebagai bumbu penyedap perjalannya. Karena didalamnya kumpulan minimalnya dua orang yang pastinya tidak satu rasa, tidak satu nalar serta perbedaan-perbedaan lainnya. Akan tetapi jika didalamnya terdapat prinsip saling mengerti dan saling merelakan tentunya perbedaan-perbedaan yang ada menjadi keindahan bukan tekanan.
  2. Selalu menjaga interaksi yang baik (al-mu’asyarah bil ma’ruf).
    Langkah kedua ini semestinya akan mengikuti langkah pertama. Suami akan pekan terhadap istri serta anak-anaknya disaat mengalami kegelisahan dan kehancuran dan begitu juga istri, akan menggunakan jurus perasaannya untuk lebih dalam melihat keberadan suami sehingga akan lahir sebuah interaksi yang baik antar satu dengan yang lainnya.
  3. Menjaga hak dan kewajiban antar keduanya dengan baik.
    Dalam hubungan keluarga ada hak dan kewajban yang harus dijaga dengan baik sekalipun disesuaikan dengan kemampuan keduanya. Hak bagi istri merupakan kewajiban bagi suami begitupun sebaliknya, hak bagi suami menjadi sesuatu yang diwajibkan bagi istri untuk selalu dijaga dengan baik.
  4. Suami harus jadi pembimbing serta bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas keluarga.
    Seorang suami sebagaimana diungkapkan oleh Allah sebagai pemimpin keluarga harus betul-betul membimbing dan bertanggung jawab atas segala macam kewajiban serta perintah Allah SWT demi terciptanya stabilitas keluarga. Beban suami sebagai pemimpi memang tidak mudah tapi Allah sudah menanamkan potensi al-qawwamah (sifat-sifat kepemimpinan) didalam dirinya untuk dijadikan modal utama.
  5. Istri harus menjadi surga bagi suami dan anak-anaknya.
    Seorang istri memang tugas utamanya adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah mulai dari yang berbau fisik hingga ke hal-hal yang berbau psikis. Hal ini sebagai penenang dan penyejuk bagi suami yang sudah seharian berkelana mencari sesuap nasi. Begitupun terhadap anak-anaknya. Seorang ibu yang disinyalir oleh Rasulullah sebagai sekolah pertama maka jadikanlah ia sebagai surga.
  6. Suami istri harus selalu memantau serta menjaga anak-anaknya dengan bijaksana.
    Kewajiban dari seorang ayah dan ibu terhadap anaknya-anaknya adalah menjaga dan mengayomi sebaik mungkin. Mereka tidak boleh ditelantarkan hingga merasa tidak punya orang tua. Mereka tidak boleh dibiarkan bodoh dan bebas keluyuran kemana hingga menjadi anak yang tidak baik serta taat.
  7. Anak-anak harus menjadi anak yang patuh dan taat pada orang tuanya
    Orang tua berkewajiban berusaha semaksimal mungkin agar anak-anaknya menjadi anak yang patuh dan taat dengan cara penanaman nilai-nilai ke-islam-an, keabaikan, ketulusan, kelembutan serta niali-nilai baik lainnya sehingga anak-anaknya kelak mengerti akan kewajiban-kewajjbannya yang salah satunya patuh terhadap, kedua orang tua.

Dari ketujuh langkah diatas jelaslah bahwa membentuk keluarga yang ideal tidak butuh perjuangan yang berkesinambungan disamping juga harus pasrah secara total pada Allah SWT. Pasrah disini bukan berarti melepaskan kendali perjuangan akan tetapi setiap perjuangan yang diusahakan harus ada Allah disitu. Wallahu A’lam. (*)

*Penulis lulusan Universitas Al-Ahgaff Yaman, asal Desa Akkor, Kecamatan Palengaan Pamekasan, Jawa Timur dan hingga saat ini aktif sebagai tenaga pendidik di salah satu pesantren di Madura. Penulis kini juga tercatat sebagai mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Sunan Giri Surabaya.